Tehran, Purna Warta – Seorang pejabat keamanan senior Iran memperingatkan bahwa negaranya dapat sewaktu-waktu memasuki fase “pertahanan skala penuh” apabila rezim Israel terus melanggar kesepakatan gencatan senjata yang rapuh dan bersifat sementara.
Dalam pernyataan eksklusif kepada Press TV pada Rabu, pejabat tersebut mengatakan bahwa dunia saat ini sedang menyaksikan bagaimana Israel berupaya menggoyahkan kesepakatan gencatan senjata yang baru dicapai beberapa jam sebelumnya.
Menurut pejabat itu, Israel tidak hanya melanggar kesepakatan gencatan senjata, tetapi juga meningkatkan biaya politik perjanjian tersebut bagi United States dengan melancarkan agresi terhadap Lebanon sekaligus melakukan serangan terhadap Iran.
Ia juga menyerukan kepada negara-negara mediator untuk segera turun tangan.
“Sekarang saatnya menempatkan rezim agresor ini pada tempatnya,” kata pejabat tersebut.
Ia menambahkan bahwa apabila gencatan senjata runtuh, maka rezim Zionis akan menjadi pihak yang sepenuhnya bertanggung jawab.
“Iran akan menghukum agresor,” tegasnya.
Ancaman Terhadap Stabilitas di Selat Hormuz
Pejabat tersebut juga memperingatkan bahwa situasi stabil yang sempat tercipta setelah pembukaan kembali secara terkendali jalur pelayaran di Strait of Hormuz dapat segera berakhir jika pelanggaran terhadap gencatan senjata terus berlanjut.
Ia menilai bahwa eskalasi militer yang dilakukan Israel berpotensi kembali mengganggu keamanan jalur energi global tersebut.
Iran Klaim “Kemenangan Bersejarah”
Sebelumnya pada Rabu, Iran menyatakan telah meraih “kemenangan bersejarah” setelah perang yang berlangsung selama 40 hari dengan Amerika Serikat dan Israel.
Teheran mengumumkan bahwa Washington pada akhirnya menerima proposal 10 poin yang diajukan oleh Iran sebagai dasar gencatan senjata.
Salah satu poin utama dalam proposal tersebut adalah penghentian segera permusuhan Amerika Serikat dan Israel di semua front, termasuk di Lebanon.
Serangan Israel di Lebanon Setelah Pengumuman Gencatan Senjata
Namun hanya beberapa jam setelah gencatan senjata diumumkan, Israel dilaporkan melancarkan serangan udara ke berbagai lokasi di Lebanon, termasuk ibu kota Beirut.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan ratusan warga sipil.
Menurut sejumlah laporan media, Israel melancarkan setidaknya 100 serangan udara dalam waktu kurang dari 10 menit, menargetkan berbagai wilayah di negara itu.
Media lokal menyebutkan bahwa sedikitnya 88 orang tewas di Beirut saja akibat serangan tersebut.
Serangan itu disebut sebagai pemboman paling intens oleh Israel terhadap Lebanon sejak rezim tersebut memulai kembali agresinya terhadap negara Arab tersebut pada awal Maret, bersamaan dengan perang terhadap Republik Islam Iran.


