Tehran, Purna Warta – Dalam pernyataan resmi nomor 38 yang dirilis pada hari Minggu, militer Iran menjelaskan bahwa serangan terjadi beberapa jam sebelumnya dan menargetkan pesawat tempur F-15 milik Angkatan Udara AS di dekat Pulau Hormuz, menggunakan sistem permukaan-ke-udara dengan peluncuran rudal setelah operasi intersepsi yang presisi.
Baca juga: Juru Bicara Brigade Izz El-Din Al-Qassam: Iran Garis Pertahanan Lanjutan bagi Dunia Islam
Pernyataan itu menambahkan bahwa penyelidikan untuk mengetahui nasib pesawat tempur tersebut sedang berlangsung dan masih terus dilakukan.
Langkah ini terjadi di tengah gelombang operasi militer Iran yang terus menargetkan basis-basis AS dan Israel serta pusat-pusat militer dan keamanan di wilayah tengah dan selatan Palestina Terjajah, termasuk peluncuran rudal berat Qader, Khorramshahr 4, dan Khyber Shekan, serta serangan pesawat tak berawak bersenjata, yang telah merusak fasilitas di Tel Aviv, Petah Tikva, Holon, dan Ramat Gan.
Pernyataan resmi Garda Revolusi Iran menekankan bahwa “kekacauan strategis” pimpinan CENTCOM, runtuhnya pertahanan multilapis AS dan Israel, serta gangguan pada sistem dukungan persenjataan AS telah mengubah dinamika konflik di kawasan menjadi keuntungan bagi Iran, dan setiap serangan lebih lanjut terhadap pemukiman atau fasilitas energi di Iran akan mendapatkan respon yang tidak terduga dan berbeda dari jalur saat ini.
Keterlibatan Pesawat Tempur F-15 di Konflik
Baca juga: Perang terhadap Iran Melumpuhkan Transaksi Minyak dan Gas Amerika Serikat
Laporan terverifikasi menyebutkan bahwa pada 2–3 Maret 2026, tiga unit F‑15E Strike Eagle milik USAF (Angkatan Udara AS) jatuh akibat friendly fire oleh pertahanan udara Kuwait di atas wilayah udara Kuwait selama konflik regional yang sedang berlangsung. Semua awak selamat setelah menggunakan kursi pelontar.
Analisis Latar Belakang Konflik Udara
Menurut daftar insiden yang dikumpulkan oleh pengamat konflik, berbagai pesawat – termasuk drone Israel – telah terlibat dalam aksi tembak‑menembak di berbagai koridor udara sejak perang meluas pada akhir Februari 2026.


