Dubai, Purna Warta – Uni Emirat Arab telah lama, bahkan sebelum pecahnya perang besar terbaru, dikenal oleh sebagian masyarakat kawasan Teluk Persia sebagai “Israel-nya Teluk”. Dalam banyak hal, negara ini dinilai memiliki kemiripan yang signifikan dengan sekutu dekatnya dalam satu dekade terakhir di kawasan, yakni Israel.
Menurut laporan yang dikutip oleh Etemad Newspaper, kerja sama antara kedua pihak telah berlangsung selama bertahun-tahun. Hingga tahun 2020, pemerintah UEA masih menjaga citra dengan tidak secara terbuka mengakui hubungan ekonomi yang luas namun bersifat rahasia.
Berdasarkan laporan media internasional seperti Reuters dan The New York Times, sejak lebih dari satu dekade lalu UEA telah menjalin kerja sama mendalam dengan perusahaan-perusahaan Israel serta mantan agen Mossad. Dalam kerangka proyek bernama “RAVEN”, disebutkan bahwa sistem pemantauan canggih dikembangkan untuk mengawasi aktivitas pengguna ruang digital di dalam negeri, termasuk penyadapan, pelacakan, dan pengumpulan data secara real-time dengan bantuan ahli Israel.
Laporan tersebut juga menyebut bahwa UEA, di balik citra modernnya, menjalankan sistem keamanan yang sangat ketat dan represif. Metode yang digunakan mencakup pengawasan luas, penahanan tanpa proses hukum yang transparan, serta praktik “penghilangan” terhadap individu yang dianggap bermasalah oleh aparat keamanan.
Kebebasan berekspresi di negara tersebut dilaporkan sangat terbatas. Aktivitas di media sosial dapat dengan cepat berujung pada tindakan hukum, sementara komunikasi pribadi juga diyakini berada di bawah pengawasan. Produksi budaya dan media pun melalui proses sensor ketat guna mencegah munculnya kritik terhadap pemerintah.
Selain itu, laporan tersebut menyoroti ketimpangan pembangunan antar-emirat. Sementara kota seperti Dubai dan Abu Dhabi menampilkan kemajuan infrastruktur dan kemewahan, wilayah lain seperti Fujairah, Ras Al Khaimah, Ajman, dan Umm Al Quwain digambarkan masih tertinggal dalam hal fasilitas kesehatan dan layanan publik.
Di sisi lain, Dubai juga disebut sebagai salah satu pusat aktivitas ilegal seperti perdagangan manusia dan eksploitasi seksual. Sejumlah laporan internasional mengindikasikan adanya kasus pekerja migran, khususnya perempuan, yang mengalami kekerasan atau eksploitasi oleh majikan mereka.
Dalam aspek keamanan dan militer, sejak 2015 UEA meningkatkan citra kekuatan militernya, meskipun laporan tersebut menyebut ketergantungan yang besar pada tenaga dan teknologi asing, termasuk dari Amerika Serikat dan negara Barat lainnya.
Lebih lanjut, disebutkan bahwa hubungan strategis antara UEA dan Israel mencakup kerja sama militer dan keamanan yang luas. Hal ini dinilai sebagai bagian dari strategi geopolitik UEA dalam menghadapi rival regional seperti Iran, Arab Saudi, dan Qatar.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa kebijakan luar negeri dan keamanan UEA juga mencakup keterlibatan dalam konflik kawasan, termasuk di Tanduk Afrika dan wilayah Teluk, sebagai bagian dari upaya memperluas pengaruh dan mempertahankan stabilitas internal.


