Laporan Media: Inggris Tidak Akan Izinkan AS Gunakan Pangkalan Militernya untuk Menyerang Iran

Inggris

Purna Warta – Mengutip sejumlah sumber laporan di Inggris, menyebutkan bahwa London akan menolak permintaan Presiden AS Donald Trump untuk menggunakan pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) dalam operasi yang menargetkan fasilitas sipil Iran.

“Inggris akan menolak memberikan izin kepada Donald Trump untuk menggunakan pangkalan RAF guna menyerang jembatan atau pembangkit listrik Iran,” tulis laporan media tersebut.

Menurut sumber yang sama, pemerintah Inggris hanya bersedia mengizinkan penggunaan pangkalan militernya untuk operasi yang bersifat defensif. Ancaman yang disampaikan Trump terhadap Iran dinilai tidak termasuk dalam kategori tersebut.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa keputusan terkait akses pesawat pengebom Amerika Serikat ke pangkalan Inggris biasanya diambil berdasarkan pertimbangan setiap kasus secara terpisah.

Ancaman serangan terhadap infrastruktur Iran

Sebelumnya, Trump memperingatkan bahwa hari Selasa akan menjadi “hari serangan terhadap jembatan dan pembangkit listrik,” sambil menyerukan agar Iran membuka kembali Strait of Hormuz. Ia juga menyatakan bahwa jika hal itu tidak dilakukan, rakyat Iran akan “hidup dalam neraka”.

Pemerintah Iran merespons ancaman tersebut dengan menyatakan bahwa Teheran akan memberikan balasan tegas apabila Washington melaksanakan serangan tersebut.

PBB: Serangan terhadap infrastruktur sipil melanggar hukum internasional

Sementara itu, juru bicara Sekretaris Jenderal United Nations, Stéphane Dujarric, menyatakan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur sipil Iran—termasuk jembatan dan pembangkit listrik—akan merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.

Menurutnya, hukum humaniter internasional melarang penargetan fasilitas sipil yang tidak memiliki fungsi militer langsung.

Sekutu Barat berhati-hati terhadap eskalasi

Beberapa analis keamanan di Eropa menilai sikap Inggris mencerminkan kehati-hatian sekutu Barat terhadap kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah United Kingdom sendiri sebelumnya berulang kali menekankan pentingnya de-eskalasi dan perlindungan terhadap infrastruktur sipil dalam setiap konflik bersenjata.

Di sisi lain, negara-negara Eropa lainnya, termasuk France dan Germany, juga dilaporkan mendorong penyelesaian diplomatik untuk meredakan ketegangan antara United States dan Iran, khususnya terkait keamanan jalur energi global seperti Selat Hormuz.

Kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan energi global

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, karena sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati perairan tersebut. Ancaman penutupan atau konflik militer di kawasan ini dikhawatirkan dapat mengganggu pasokan energi internasional dan memicu lonjakan harga minyak dunia.

Sejumlah pengamat juga mengingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas energi atau infrastruktur sipil berpotensi memperluas konflik dan melibatkan lebih banyak negara di kawasan, termasuk negara-negara Teluk.

Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Inggris maupun Amerika Serikat terkait laporan media tersebut, namun diskusi mengenai kemungkinan penggunaan pangkalan militer sekutu untuk operasi di Timur Tengah dilaporkan terus berlangsung di kalangan pejabat keamanan Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *