Konferensi Nasional Arab: Agresi terhadap Iran Bertujuan Wujudkan Proyek “Israel Raya”

Mutamar

Beirut, Purna Warta – Forum politik intelektual Arab yang dikenal sebagai Konferensi Nasional Arab mengecam agresi terhadap Iran dan menyebut tindakan tersebut sebagai bagian dari rencana luas untuk mengubah keseimbangan kawasan serta mengancam keamanan dunia Arab.

Menurut laporan Al Mayadeen, dalam pernyataannya, Konferensi Nasional Arab menyatakan bahwa agresi terhadap Iran merupakan konsekuensi dari dukungan konsisten negara tersebut terhadap perjuangan Palestina serta penolakannya terhadap apa yang disebut sebagai “proyek Zionis-imperialis.”

Dalam pernyataan itu ditegaskan bahwa tujuan utama agresi ini adalah melemahkan dan pada akhirnya menjatuhkan Iran guna membuka jalan bagi pelaksanaan proyek “Israel Raya” di wilayah Arab.

Lembaga tersebut juga memperingatkan meningkatnya bahaya keberadaan pangkalan militer asing di sejumlah negara Arab, yang dinilai sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional Arab.

Konferensi Nasional Arab menegaskan bahwa pangkalan-pangkalan tersebut tidak hanya membahayakan stabilitas kawasan, tetapi juga digunakan sebagai alat tekanan dan pemerasan politik terhadap negara-negara di kawasan.

Konferensi Nasional Arab merupakan forum politik dan intelektual yang menghimpun tokoh, partai, dan aktivis Arab dengan tujuan memperkuat persatuan Arab, mendukung perlawanan terhadap rezim Zionis, serta membahas isu-isu strategis dunia Arab.

Pernyataan ini dirilis setelah perang selama 40 hari antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026, yang akhirnya menghasilkan kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu dengan mediasi Pakistan guna membuka jalan bagi negosiasi menuju perdamaian permanen.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya menerima proposal 10 poin dari Iran dan menganggapnya sebagai dasar yang layak untuk negosiasi.

Sejalan dengan itu, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran juga merilis pernyataan terkait kesepakatan tersebut, menegaskan bahwa Iran menolak semua proposal dari pihak lawan dan mengajukan rencana 10 poin melalui Pakistan kepada Amerika Serikat.

Dalam rencana tersebut, Iran menekankan sejumlah prinsip utama, termasuk pengelolaan terkendali Selat Hormuz dengan koordinasi angkatan bersenjata Iran, penghentian perang terhadap seluruh komponen poros perlawanan, penarikan pasukan tempur AS dari seluruh pangkalan di kawasan, serta pembentukan protokol keamanan pelayaran di Selat Hormuz yang menjamin peran dominan Iran.

Selain itu, Iran menuntut pembayaran penuh kompensasi atas kerugian perang, pencabutan seluruh sanksi primer dan sekunder, pembebasan seluruh aset Iran yang dibekukan di luar negeri, serta pengesahan seluruh kesepakatan tersebut dalam resolusi mengikat Dewan Keamanan PBB.

Berita tambahan terkait tema:

Pernyataan Konferensi Nasional Arab ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran di kalangan elite politik dan intelektual Arab terhadap dampak geopolitik dari konflik Iran–Israel yang didukung Amerika Serikat. Banyak pihak menilai bahwa eskalasi konflik tidak hanya berpotensi mengubah peta kekuatan regional, tetapi juga memperbesar risiko keterlibatan negara-negara Arab dalam dinamika konflik yang lebih luas.

Di sisi lain, isu keberadaan pangkalan militer asing di kawasan kembali menjadi sorotan, terutama terkait kedaulatan negara-negara Arab dan potensi penggunaan fasilitas tersebut dalam konflik regional. Sejumlah analis menilai bahwa perkembangan ini dapat memicu gelombang baru perdebatan internal di negara-negara Arab mengenai hubungan mereka dengan kekuatan global dan arah kebijakan keamanan di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *