Tehran, Purna Warta – Unit komando operasional tertinggi Iran memperingatkan adanya “niat jahat” rezim Israel untuk menargetkan infrastruktur energi di kawasan guna menyalahkan Republik Islam Iran secara palsu dan menimbulkan perpecahan di antara negara-negara regional.
Peringatan tersebut disampaikan pada Kamis oleh Khatam al-Anbiya Central Headquarters, unit komando operasional tertinggi Iran yang mengoordinasikan operasi antara Islamic Revolution Guards Corps dan angkatan bersenjata reguler Iran.
Juru bicara markas tersebut, Ebrahim Zolfaqari, menyatakan:
“Seperti yang telah kami umumkan sebelumnya, Angkatan Bersenjata Iran akan menargetkan seluruh infrastruktur milik Amerika Serikat dan rezim Zionis, dan kami akan secara resmi menerima tanggung jawab atas tindakan tersebut serta mengumumkannya.”
Namun, berdasarkan berbagai laporan, rezim Israel disebut sedang merencanakan serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan, termasuk fasilitas milik Saudi Aramco di Arab Saudi.
Menurut Zolfaqari, rekam jejak tindakan permusuhan Israel di masa lalu memperkuat dugaan adanya rencana jahat untuk melakukan serangan semacam itu dan kemudian menyalahkan Iran secara palsu, dengan tujuan menciptakan perpecahan di antara negara-negara kawasan.
Latar Belakang Ketegangan
Pernyataan tersebut muncul di tengah berlangsungnya Operation True Promise 4, operasi balasan militer Iran terhadap agresi terbaru Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam.
Operasi tersebut menargetkan sasaran sensitif dan strategis di wilayah pendudukan Israel, serta berbagai pangkalan militer Amerika di kawasan.
Di tengah serangan balasan tersebut, sejumlah ledakan juga dilaporkan terjadi di fasilitas yang tidak terkait di negara-negara pesisir kawasan Persian Gulf. Pemerintah Iran secara tegas membantah keterlibatan dalam insiden tersebut.
Laporan Penangkapan Agen Mossad
Awal bulan ini, jurnalis Amerika Tucker Carlson menyatakan bahwa otoritas di Qatar dan Saudi Arabia telah menangkap agen yang terkait dengan Mossad yang diduga merencanakan aksi pengeboman.
Carlson menyebut insiden tersebut sebagai bagian dari upaya lebih luas untuk mengguncang stabilitas negara-negara Teluk Persia.


