Tehran, Purna Warta – Menurut laporan pemberitaan lokal Iran, pada hari-hari awal perang yang disebut sebagai agresi oleh United States dan Israel terhadap Iran, Presiden AS Donald Trump sempat menyampaikan pernyataan tegas mengenai kemungkinan “penyerahan Iran”.
Namun seiring perubahan situasi di lapangan dan semakin kompleksnya dinamika konflik, Trump kini mulai berbicara mengenai kemungkinan “perundingan”. Perubahan sikap tersebut, yang terlihat dalam sejumlah pernyataan yang terkadang saling bertentangan, oleh sebagian analis dinilai sebagai tanda bahwa Washington menghadapi kebuntuan militer.
Wartawan Mehr melakukan wawancara dengan analis Turki Mehmet Ali Güller untuk meninjau perkembangan perang tersebut.
Tiga Kesalahan Strategis Amerika Serikat dan Israel
Menurut Güller, Amerika Serikat dan Israel melakukan tiga kesalahan utama ketika memulai serangan terhadap Iran.
Pertama, Washington dan Tel Aviv berasumsi bahwa setelah serangan udara besar-besaran, oposisi domestik di Iran akan melakukan pemberontakan dan sistem pemerintahan akan runtuh. Namun asumsi tersebut tidak terbukti.
Ia menilai bahwa ketika serangan datang dari Amerika Serikat dan Israel, bahkan kelompok oposisi di Iran tetap bersatu membela negara mereka.
Kedua, kedua negara tersebut mengira bahwa dengan menyingkirkan pemimpin Iran, struktur pemerintahan akan runtuh. Namun menurutnya, sistem pemerintahan Iran memiliki struktur institusional yang memungkinkan kelangsungan negara tetap terjaga meskipun terjadi perubahan kepemimpinan.
Ketiga, Amerika Serikat dan Israel memperkirakan persediaan rudal dan drone Iran akan segera habis sehingga Iran tidak dapat memberikan respons militer dalam jangka panjang. Namun kenyataannya, menurut Güller, justru Amerika Serikat yang menghadapi masalah logistik dan keterbatasan persenjataan.
Ia menambahkan bahwa klaim Washington mengenai penghancuran kemampuan rudal Iran tidak sesuai dengan kenyataan, karena Iran masih terus melakukan serangan terhadap pangkalan militer Amerika dan Israel.
Peran Selat Hormuz dalam Perubahan Keseimbangan Konflik
Güller menilai bahwa kontrol Iran terhadap Selat Hormuz selama konflik telah mengubah keseimbangan strategis.
Selat tersebut merupakan jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, sehingga memiliki posisi yang sangat sensitif dalam sistem energi global.
Ia menyatakan bahwa keputusan Iran untuk membatasi akses kapal yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel memberikan tekanan pada Washington dalam beberapa aspek:
- Ketidakmampuan membuka kembali jalur pelayaran menunjukkan keterbatasan kekuatan angkatan laut Amerika Serikat di kawasan.
- Amerika Serikat terpaksa meminta bantuan sekutu untuk membuka jalur tersebut.
- Gangguan pada jalur perdagangan minyak memicu tekanan pada ekonomi global dan kenaikan harga energi.
Dalam kondisi tersebut, menurutnya, Washington bahkan harus melepas ratusan juta barel minyak dari cadangan strategisnya guna menstabilkan pasar.
Makna Pernyataan Trump tentang Negosiasi
Menanggapi perubahan retorika Donald Trump dari pendekatan militer menuju diplomasi, Güller mengatakan bahwa hal tersebut bisa menunjukkan upaya Washington mencari jalan keluar dari situasi yang sulit.
Namun ia juga tidak menutup kemungkinan bahwa pernyataan mengenai negosiasi dapat menjadi upaya untuk memperoleh waktu guna membangun kembali jalur logistik militer.
Menurutnya, Iran memiliki pengalaman panjang dalam hubungan dengan Amerika Serikat dan memahami bahwa Washington tidak selalu dapat dipercaya, terutama karena serangan militer dilakukan ketika proses diplomasi masih berlangsung.
Laporan The New York Times dan Kesalahan Perhitungan
Güller juga menanggapi laporan yang diterbitkan oleh The New York Times mengenai peran intelijen Israel dalam mendorong keputusan untuk menyerang Iran.
Menurut laporan tersebut, Mossad diyakini telah meyakinkan Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa serangan militer terhadap Iran akan menyebabkan runtuhnya pemerintahan negara tersebut.
Namun menurut Güller, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa asumsi tersebut merupakan kesalahan perhitungan besar.
Ia juga menilai bahwa upaya memicu pemberontakan melalui kelompok etnis seperti Kurdi atau Azerbaijan tidak berhasil karena masyarakat Iran—termasuk kelompok Persia, Turki, dan Kurdi—bersatu menghadapi serangan eksternal.
Faktor Penentu dalam Perang
Sebagai kesimpulan, Güller menekankan bahwa kemenangan dalam perang tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata, tetapi juga oleh tekad masyarakat.
Menurutnya, Amerika Serikat dan Israel bertindak sebagai pihak penyerang, sementara Iran memposisikan diri sebagai negara yang mempertahankan wilayahnya.
Ia menilai bahwa dukungan penuh masyarakat Iran terhadap pertahanan negara menjadi faktor penting yang memengaruhi jalannya konflik.
“Dalam perang, bukan hanya senjata yang menentukan kemenangan, tetapi juga kemauan dan tekad. Mereka yang siap berkorban untuk negaranya sering kali memiliki keunggulan,” ujarnya.


