Teheran, Purna Warta – Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras komunitas internasional yang terus menerus mengeluarkan kecaman dan janji kosong sementara rezim Israel terus lancarkan genosida di Jalur Gaza berkat dukungan militer yang besar dari sekutu Baratnya.
Baca juga: Qalibaf Ungkap Tindakan Israel yang Mirip Nazi di KTT Parlemen Global
Juru bicara Esmaeil Baghaei menyampaikan komentar tersebut dalam sebuah unggahan di X pada hari Sabtu.
Jubir Iran itu merujuk pada ketidakpedulian internasional yang berkelanjutan dalam menanggapi perang genosida dan kampanye kelaparan rezim Israel sejak Oktober 2023 hingga sekarang terhadap Gaza, yang telah didukung penuh oleh pendukung utama Tel Aviv di Barat seperti Amerika Serikat dan Jerman.
“Warga Palestina mati kelaparan secara keji, sementara mereka dibantai dengan senjata mematikan paling canggih buatan Amerika/Jerman,” tulisnya.
“Antrean makanan sengaja diubah menjadi jebakan maut; pasien meninggal tanpa makanan & obat-obatan,” tambah pejabat itu.
Sebagai upaya untuk mengatasi malnutrisi yang meluas di seluruh wilayah, Tel Aviv dan Washington telah mendirikan apa yang disebut titik distribusi bantuan di seluruh Gaza, tempat lebih dari seribu warga Palestina yang kelaparan sejauh ini telah ditembak mati oleh Israel.
“Dan ini terjadi setelah 2 tahun kampanye teror brutal berupa pemboman dan pemusnahan massal yang telah menewaskan dan melukai lebih dari 200.000 orang, membuat seluruh warga Gaza trauma, dan mengubah 90 persen Jalur Gaza menjadi seperti bulan yang tak layak huni,” keluh Baghaei.
“Komunitas internasional harus berhenti mengeluarkan pernyataan kosong dan mulai mengambil tindakan untuk meringankan beban warga Gaza yang tidak bersalah.”
Baca juga: Menhan: Iran dan Pakistan Berkomitmen Saling Dukung di Panggung Global
Hal itu, menurut pejabat tersebut, dapat dicapai melalui penerapan embargo senjata langsung terhadap rezim tersebut dan penuntutan terhadap para pejabat kriminalnya.
Pada November 2023, perjanjian gencatan senjata sementara antara rezim dan gerakan perlawanan Hamas menghasilkan pembebasan beberapa tawanan Israel dan tahanan Palestina. Namun, rezim tersebut menolak untuk memperpanjang kesepakatan seperti yang direncanakan semula, dan malah memilih untuk mengintensifkan serangan militernya di Gaza.


