Beirut, Purna Warta – Menurut laporan pemberitaan di Yaman, di tengah berbagai analisis mengenai perkembangan terbaru di Yaman dan kemenangan besar yang diraih Ansarullah di pesisir barat serta penguasaannya secara penuh atas Selat Bab al-Mandab, Nasser Qandil, analis terkemuka Lebanon sekaligus pemimpin redaksi surat kabar Al-Binaa, membahas dimensi dan dampak kemenangan besar Sana’a tersebut dalam tajuk rencana surat kabar itu.
Ia menulis:
Hanya beberapa hari sebelum gerakan Ansarullah menguasai secara penuh al-Mukha dan secara keseluruhan kawasan Selat Bab al-Mandab, narasi yang disebarkan oleh pemerintah Aden—yang dalam tulisan tersebut disebut sebagai pemerintahan yang bergantung pada Arab Saudi—dan para sekutunya adalah bahwa mereka sedang mendekati momen penentuan. Menurut narasi tersebut, persiapan untuk melancarkan serangan besar dari al-Jawf dan pesisir barat sedang berlangsung, dilanjutkan dengan upaya mencapai Hudaydah dan kemudian bergerak menuju Sana’a dari dua front.
Euforia Pasukan Pendukung Arab Saudi Beberapa Hari Sebelum Keruntuhan
Hal tersebut bukan sekadar berita yang dibocorkan oleh para jurnalis atau prediksi para analis. Pada 6 September, pasukan pemerintah yang berbasis di Aden mengumumkan pelaksanaan sebuah “operasi militer besar” dan menyatakan bahwa serangan dari tiga poros telah dimulai di front al-Barh.
Mereka juga mengklaim telah merebut kembali sejumlah posisi di al-Kadaha, sebelah barat Taiz, serta mendirikan posisi-posisi baru di bagian selatan Hudaydah. Semua itu berlangsung bersamaan dengan serangan udara terhadap posisi-posisi Ansarullah di al-Jawf, Ma’rib, Taiz, dan Hudaydah.
Pada hari yang sama, pemerintah Aden mengumumkan bahwa pasukannya telah menguasai wilayah Hays dan mengancam bahwa perhitungan pihak Ansarullah akan berubah, serta bahwa gerbang menuju keruntuhan total telah terbuka bagi mereka.
Sehari kemudian, pada 7 September, pemerintah Aden meningkatkan ancamannya. Mereka menyatakan bahwa pasukannya telah memperoleh kemenangan-kemenangan baru di wilayah al-Jawf, al-Bayda, Taiz, dan Hudaydah, serta mengklaim bahwa inisiatif berada di tangan mereka dan bahwa pemerintah Aden sedang memperluas kendalinya atas seluruh wilayah Yaman.
Pada hari yang sama, Samir al-Sabri, yang dikenal sebagai wakil menteri pertahanan pemerintah Aden, dalam sebuah wawancara televisi mengatakan bahwa keputusan untuk “membebaskan Sana’a” telah diambil secara final dan pasti, serta terdapat sejumlah kejutan yang akan segera terungkap.
Sementara itu, Tariq Saleh, salah satu tokoh utama pasukan yang didukung Arab Saudi, pada 25 Agustus menyatakan bahwa Hudaydah merupakan titik fokus pertempuran. Pada 1 September, ia juga mengatakan bahwa kesiapan militer di front pesisir barat telah mencapai tingkat yang tinggi.
Namun, di balik pernyataan keras dan manuver pemerintah Aden serta pasukannya tersebut, memang terdapat kekuatan militer yang cukup besar. Jumlah personel bersenjata yang berada di bawah komando Tariq Saleh disebut mencapai sekitar 20.000 orang dalam tiga brigade. Sementara itu, antara 20.000 hingga 30.000 personel bersenjata lainnya berada dalam Brigade al-Amaliqah.
Dengan demikian, secara teoritis, lebih dari 50.000 personel bersenjata yang didukung Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah dikerahkan untuk menghadapi pasukan Sana’a di pesisir barat Yaman.
Pada saat yang sama, kampanye media juga dilancarkan untuk meningkatkan moral pasukan pendukung pemerintah Aden dan melemahkan moral para pendukung Ansarullah. Media dan para analis yang berafiliasi dengan pemerintah Aden maupun media yang secara umum terkait dengan Arab Saudi menyatakan dalam berbagai analisis dan laporan bahwa keseimbangan kekuatan di Yaman telah berubah dan bahwa Ansarullah telah mengalami kelelahan serta pelemahan.
Media-media tersebut terus memberitakan kemajuan pasukan pendukung pemerintah di al-Jawf, kedekatan mereka dengan al-Hazm, serta penguasaan mereka atas Hays. Euforia tersebut bahkan berkembang sedemikian rupa hingga muncul sesuatu yang menyerupai berita duka bagi Ansarullah, dengan klaim bahwa Sana’a sedang berada di ambang kejatuhan.
Berdasarkan manuver media dan pernyataan pemerintah Aden tersebut, pertanyaannya bukan lagi apakah pasukan Aden mampu melakukan serangan atau tidak. Pertanyaannya adalah sejauh mana mereka akan maju, kapan pertempuran Sana’a akan dimulai, dan kejutan apa yang dimaksud oleh para pendukung pemerintah Aden tersebut.
Bagaimana Ansarullah Membalikkan Keadaan dalam Hitungan Jam?
Namun, hanya dalam beberapa jam, seluruh situasi berubah dan keadaan berbalik sepenuhnya. Alih-alih pasukan pendukung pemerintah bergerak dari Hays menuju Hudaydah, kawasan tersebut dikejutkan oleh berita mengenai masuknya Ansarullah ke Hays dan kemudian al-Khawkhah.
Garis-garis pertahanan di sepanjang pesisir satu demi satu runtuh, dan pasukan Ansarullah bergerak menuju al-Mukha beserta pelabuhannya, kemudian ke Dhubab, Pulau Mayyun, Bab al-Mandab, dan sejumlah pulau di Laut Merah.
Pada 11 September, sejumlah media Arab, termasuk Al Jazeera, mengakui bahwa setelah menempatkan pasukannya di Pulau Mayyun dan mencapai Dhubab, Ansarullah telah memperluas kendalinya “hingga ke jantung Selat Bab al-Mandab”.
Pada 12 September, Al Jazeera dalam sebuah laporan menulis bahwa penguasaan Houthi atas al-Mukha dan penarikan pasukan pemerintah Aden telah mengubah peta penempatan militer di Yaman.
Menurut pernyataan yang dikeluarkan juru bicara militer gerakan Ansarullah, operasi Sana’a tersebut dimulai pada 3 September dan mencakup enam wilayah di Provinsi Taiz dan Hudaydah, dengan cakupan wilayah sekitar 5.400 kilometer persegi. Operasi tersebut menargetkan tujuh divisi militer yang terdiri atas 38 brigade yang berafiliasi dengan pasukan pendukung pemerintah Aden.
Hal yang patut diperhatikan adalah pihak lawan juga terpaksa mengakui kemenangan Ansarullah tersebut dan mengakui adanya penarikan pasukannya.
Hal penting lainnya adalah ketidakmampuan pemerintah Aden untuk memberikan sebuah peta alternatif guna merebut kembali wilayah-wilayah yang telah dikuasai Ansarullah.
Fakta-fakta di lapangan juga menunjukkan penguasaan Ansarullah atas Hays, al-Khawkhah, al-Mukha, Dhubab, Pulau Mayyun, dan kawasan Bab al-Mandab.
Rahasia Epik Besar Rakyat Yaman yang Menghadapi Mesin-Mesin Perang Terbesar dalam Kondisi Kekurangan
Setelah itu, pemerintah Aden dan media yang berafiliasi dengannya berupaya membangun kembali narasi mengenai kekalahan mereka. Mereka menyatakan bahwa perubahan garis pertempuran tidak berarti kekalahan dan bahwa pasukan yang telah mundur dapat melakukan konsolidasi kembali dan kembali ke wilayah mereka.
Pasukan pendukung Arab Saudi kemudian menekankan ancaman serangan udara besar-besaran dan serangan destruktif, yang dilanjutkan dengan serangan darat berskala luas untuk merebut kembali wilayah pesisir. Tiga hari kemudian, serangkaian serangan udara dilancarkan, tetapi tidak menghasilkan perubahan berarti. Pasukan yang berafiliasi dengan pemerintah Aden tidak berhasil menguasai kembali wilayah mana pun.
Di sini perlu dicatat bahwa setiap komando militer memang memiliki hak untuk merencanakan serangan balasan. Namun, media tidak semestinya menyajikan kemungkinan di masa depan sebagai sebuah pencapaian yang telah terealisasi. Jawaban atas pertanyaan mengenai siapa yang menguasai suatu wilayah tidak ditentukan oleh banyaknya data, melainkan oleh peta penguasaan wilayah di lapangan.
Sementara itu, ketika pemerintah Aden dan media yang berafiliasi dengannya berupaya menuduh Iran melakukan intervensi di Yaman dan mengklaim bahwa perencanaan operasi besar Ansarullah tersebut dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran, sumber-sumber Iran membantah bahwa mereka telah memberikan instruksi kepada Ansarullah.
Reuters, dengan mengutip seorang pejabat Iran, melaporkan bahwa keputusan untuk bergerak menuju al-Mukha merupakan keputusan yang sepenuhnya berasal dari Yaman dan diambil oleh gerakan Ansarullah. Meskipun kemenangan setiap front dalam apa yang disebut sebagai Poros Perlawanan dianggap menguntungkan keseluruhan poros tersebut, Iran menyatakan bahwa pihaknya tidak mencampuri urusan internal pihak mana pun.
Memang benar bahwa Iran, sebagai pemimpin Poros Perlawanan, memberikan dukungan dalam berbagai bentuk kepada para sekutunya dalam poros tersebut. Namun, menurut penulis, upaya pihak lawan untuk mengaitkan kemenangan Ansarullah semata-mata dengan dukungan tersebut hanyalah sebuah manuver media.
Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa jarak antara pantai Iran yang paling dekat dengan Selat Bab al-Mandab sekitar 2.100 kilometer, sementara Yaman berada di bawah blokade laut dan udara. Sebaliknya, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berbatasan dengan Yaman dan selama lebih dari satu dekade telah mengerahkan serta memberikan dukungan udara, finansial, militer, dan intelijen kepada pasukan yang mereka dukung di Yaman.
Karena itu, jika dukungan eksternal semata-mata menjadi faktor penentu kemenangan, mengapa dukungan luas Arab Saudi dan Uni Emirat Arab kepada pasukan yang mereka dukung di Yaman selama lebih dari sepuluh tahun tidak menghasilkan kemenangan menentukan bagi mereka? Mengapa organisasi militer yang besar dan diperlengkapi dengan baik dapat runtuh ketika menghadapi kekuatan yang bertempur dari dalam sebuah negara yang berada dalam kondisi blokade?
Jawaban yang diberikan penulis terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah bahwa kepemilikan kekuatan persenjataan semata tidak otomatis berarti keunggulan suatu pihak.
Sebagai contoh, pada pihak yang didukung Arab Saudi dan Uni Emirat Arab di Yaman, meskipun mereka memperoleh dukungan militer yang luas, penulis menilai bahwa mereka tidak memiliki doktrin perang yang nyata dan juga terus mengalami perbedaan dalam struktur komando.
Selain itu, menurut analisis tersebut, pasukan itu memiliki koordinasi yang lemah dan sangat bergantung pada operasi udara dari kekuatan asing.
Di pihak lain, gerakan Ansarullah, meskipun memiliki sumber daya militer yang lebih terbatas, memiliki sejumlah keunggulan seperti kesatuan komando, informasi intelijen yang akurat, mobilitas cepat, kemampuan menyembunyikan niat operasional, serta kemampuan mengidentifikasi titik-titik lemah di front lawan. Menurut penulis, faktor-faktor tersebut memberikan keunggulan strategis kepada Ansarullah.
Dari Guncangan Badai Al-Aqsa hingga Epik Bab al-Mandab: Bagaimana Perlawanan Membalikkan Keadaan?
Oleh karena itu, menurut penulis, guncangan yang ditimbulkan di Selat Bab al-Mandab terhadap Poros Amerika–Israel, dari sisi arti penting militer dan psikologis serta perubahan strategis yang menyertainya, dapat dibandingkan dengan Operasi Badai Al-Aqsa.
Pada 7 Oktober 2023, para pejuang perlawanan Palestina berhasil menembus tembok pertahanan yang kokoh serta sistem pengawasan dan intelijen paling maju milik Israel, yang sebelumnya disebut tidak dapat ditembus. Hanya dalam beberapa jam, gambaran mengenai ketangguhan Israel runtuh di hadapan dunia.
Kini, di pesisir barat Yaman, para pejuang Yaman juga disebut berhasil menembus garis pertahanan yang dijaga oleh puluhan ribu personel bersenjata dan didukung oleh angkatan udara, persenjataan, serta pendanaan Arab Saudi. Menurut penulis, hal tersebut menghancurkan gambaran mengenai apa yang disebut sebagai sebuah tentara yang sebelumnya menyatakan akan segera menguasai Sana’a.
Yang lebih penting, menurut analisis tersebut, penguasaan Ansarullah atas Selat Bab al-Mandab berarti bahwa jalur laut strategis yang merupakan salah satu lintasan maritim paling penting di dunia tersebut kini berada dalam kendali keseluruhan Poros Perlawanan. Bersama dengan Selat Hormuz, kondisi ini disebut telah membentuk sebuah persamaan strategis baru terkait jalur-jalur laut.
Meskipun Arab Saudi dan para mitranya telah melakukan berbagai upaya untuk mengecilkan arti penting kemenangan Yaman tersebut, menurut penulis, kenyataan di lapangan tetap ada. Pihak Saudi yang sebelumnya mengklaim akan mencapai Sana’a kini, menurut analisis tersebut, harus memberikan penjelasan mengenai penyebab kegagalan mereka.
Kemenangan Ansarullah tersebut, menurut penulis, sekali lagi menunjukkan bahwa faktor kehendak, organisasi, dan kemampuan bertempur dapat mengalahkan faktor uang, persenjataan, dan kekuatan udara.
Penulis juga memperkirakan bahwa dalam beberapa hari mendatang akan muncul kejutan-kejutan baru, bukan dari pasukan pendukung pemerintah Aden, melainkan dari para pejuang Yaman di Sana’a yang, menurut narasi tersebut, berjuang untuk membebaskan seluruh wilayah Yaman dari apa yang mereka sebut sebagai kekuatan pendudukan.


