Al-Quds, Purna warta – Gerakan Jihad Islam Palestina menyebut pembantaian Sabra dan Shatila sebagai salah satu pembantaian paling mengerikan yang dilakukan Israel dan para sekutunya, sekaligus menjadi simbol diamnya dunia terhadap kejahatan tersebut.
Gerakan Jihad Islam Palestina pada Rabu mengeluarkan pernyataan untuk memperingati 44 tahun pembantaian Sabra dan Shatila di Beirut. Gerakan tersebut menyebutnya sebagai salah satu pembantaian paling mengerikan yang dilakukan Israel dan para sekutunya di hadapan mata dunia.
Dalam pernyataan tersebut disebutkan bahwa selama tiga hari tiga malam, pasukan Israel melanggar kesucian kawasan permukiman di kamp pengungsi dan melakukan berbagai bentuk kekejaman, mulai dari pembunuhan ratusan anak-anak dan perempuan hingga pemenggalan, mutilasi, pembelahan perut, dan pencungkilan mata.
Menurut gerakan tersebut, kejahatan itu juga disertai eksekusi sewenang-wenang, penculikan, serta penghilangan paksa yang berdampak terhadap hampir 4.000 pengungsi Palestina dan ratusan warga sipil.
Jihad Islam dalam pernyataannya menegaskan bahwa pembantaian tersebut tidak akan terjadi seandainya tidak ada apa yang mereka sebut sebagai penipuan Amerika Serikat dan kegagalan memenuhi komitmen internasional maupun regional untuk melindungi kamp pengungsi dan warga sipil, sehingga mereka tidak dibiarkan menjadi sasaran para pelaku kejahatan.
Menurut pernyataan tersebut, sikap diam dunia serta tidak adanya proses hukum dan hukuman terhadap para pelaku pembantaian Sabra dan Shatila, meskipun terdapat bukti yang tidak terbantahkan dan kesaksian yang terdokumentasi, telah menciptakan kondisi bagi munculnya pelaku-pelaku kejahatan baru di Israel saat ini. Mereka, menurut Jihad Islam, kini melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan melanjutkan perang yang bertujuan menghancurkan bangsa-bangsa di kawasan, terutama rakyat Palestina dan Lebanon.
Gerakan tersebut pada akhir pernyataannya menegaskan bahwa sejarah Israel dipenuhi dengan pembantaian, pengkhianatan, dan ketidakmampuan komunitas internasional. Menurut mereka, ketergantungan yang gagal pada lembaga-lembaga internasional—yang terkadang dianggap terlibat dan sering kali tidak mampu bertindak—merupakan pelajaran yang telah dipahami rakyat Palestina dan tersimpan dalam ingatan berbagai generasi.
44 Tahun Pembantaian Sabra dan Shatila
Hari ini, Jumat, bertepatan dengan peringatan 44 tahun pembantaian Sabra dan Shatila, sebuah kejahatan brutal yang terjadi pada 16 September 1982 di kamp pengungsi Sabra dan Shatila di Lebanon.
Kejahatan terhadap penduduk kamp Sabra dan Shatila berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Dalam peristiwa tersebut, banyak perempuan, laki-laki, dan anak-anak yang tidak bersalah—sebagian besar merupakan warga Palestina—tewas. Di antara para korban juga terdapat banyak warga Lebanon.
Jumlah korban dalam pembantaian tersebut diperkirakan mencapai antara 3.500 hingga 5.000 orang dari sekitar 20.000 penduduk kamp.
Kejahatan tersebut bermula ketika tentara Israel, di bawah komando Ariel Sharon yang saat itu menjabat sebagai menteri perang Israel, bersama Rafael Eitan, mengepung kamp Sabra dan Shatila. Dalam kondisi yang jauh dari jangkauan media, pembantaian brutal tersebut kemudian dilakukan.
Tentara Israel menggunakan senjata tajam untuk membunuh dan melakukan pembantaian terhadap para penghuni kamp. Tugas pasukan Israel adalah mengepung kamp dan meneranginya pada malam hari dengan menggunakan suar.
Tentara Israel dan milisi Tentara Lebanon Selatan mengepung kamp tersebut. Ratusan personel bersenjata kemudian memasuki kamp dengan dalih mencari 1.500 pejuang Palestina yang sebenarnya berada di luar kamp dan berada di berbagai medan pertempuran.
Di dalam kamp tidak terdapat siapa pun selain perempuan, laki-laki, anak-anak, dan orang-orang lanjut usia. Pasukan Israel kemudian melakukan pembunuhan terhadap mereka. Sebagian besar jenazah ditemukan tergeletak di jalan-jalan dan di atas tanah.
Setelah itu, buldoser militer Israel memasuki kamp dan mulai menghancurkan rumah-rumah serta merusak kawasan kamp, sehingga menurut laporan tersebut tidak ada jejak yang tersisa dari pembantaian brutal tersebut.


