Batas Waktu Lima Hari dari Hizbullah Irak kepada Amerika Serikat

5 hari

Baghdad, Purna Warta – Menurut laporan yang dikutip dari Russia Today Arabic, dalam pernyataan yang dinisbatkan kepada Abu Mujahid al‑Assaf, disebutkan bahwa kelompok perlawanan Hizbullah Irak tetap berkomitmen pada opsi perlawanan dan tidak berniat meletakkan senjata.

Baca juga: Trump: “Perdamaian Dipaksakan!” — Pernyataan “Peace Through Strength” di Tengah Eskalasi Ketegangan dengan Iran

Pernyataan itu menegaskan bahwa konfrontasi dengan Amerika Serikat, yang disebut sebagai “musuh”, hanya dapat dihentikan dalam kerangka syarat-syarat yang ditentukan oleh kelompok perlawanan. Salah satu syarat tersebut adalah tidak adanya serangan terhadap pasukan kelompok itu di dalam wilayah Irak.

Al-Assaf juga menyatakan bahwa operasi-operasi terbaru terhadap pasukan Amerika bukanlah akhir dari eskalasi, melainkan awal dari fase baru. Ia menegaskan bahwa operasi tersebut dilakukan secara independen tanpa ketergantungan pada pihak luar dan dianggap sebagai kewajiban nasional serta religius.

Kritik terhadap Aparat Intelijen

Dalam bagian lain pernyataan itu, disampaikan kritik keras terhadap dugaan kerja sama sebagian unsur dalam aparat intelijen Irak dengan pihak asing.

Kataib Hizbullah Irak juga memperingatkan bahwa pasukan Hashd al‑Shaabi tidak boleh menjadi sasaran serangan ataupun dimanfaatkan secara tidak semestinya setelah pengorbanan yang telah mereka lakukan.

Al-Assaf menegaskan bahwa senjata perlawanan Irak mencerminkan kehendak rakyat, dan kelompok perlawanan tidak akan mengizinkan legitimasi mereka dipertanyakan ataupun adanya tuntutan untuk melucuti senjata mereka.

Permintaan Mediasi untuk Penarikan Pasukan AS

Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Abu Mahdi al‑Jaafari, juru bicara Saraya Awliya al‑Dam, mengatakan bahwa Amerika Serikat dan NATO telah meminta pemerintah Irak untuk menjadi mediator dalam gencatan senjata selama 24 jam antara mereka dan kelompok perlawanan Irak.

Tujuan gencatan senjata tersebut adalah untuk memungkinkan pasukan Amerika mengevakuasi diri dari Pangkalan Victoria di Baghdad dan memindahkan mereka ke Turki.

Baca juga: Kebrutalan Pemukim Zionis di Tepi Barat: Serangan Terorganisir terhadap Desa-desa di Tengah Diamnya Tentara Israel

Ia menambahkan bahwa sebagian besar kelompok perlawanan Irak menerima permintaan tersebut, tetapi dengan syarat bahwa tidak ada posisi pasukan Hashd al-Shaabi yang diserang, khususnya di wilayah antara Samarra hingga Karbala.

Al-Jaafari juga memperingatkan bahwa jika serangan kembali dilakukan, maka “kami akan menyiapkan neraka bagi orang-orang kafir.”

Latar Belakang Eskalasi

Dalam beberapa hari terakhir, kelompok-kelompok perlawanan Islam di Irak melancarkan serangan roket dan drone hampir setiap hari terhadap pangkalan-pangkalan Amerika. Serangan ini disebut sebagai respons terhadap serangan Amerika-Israel terhadap posisi Hashd al-Shaabi serta wilayah Iran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *