Ayatullah Fadhil Lankarani Menanggapi Pernyataan Al-Azhar

Al-Azahar

Tehrn, Purna Warta – Ayatullah Mohammad Javad Fadhil Lankarani menanggapi pernyataan Al-Azhar dan sikapnya yang dianggap tidak prinsipil terhadap agresi brutal yang dilancarkan Amerika Serikat dan rezim Israel terhadap Republik Islam Iran, menyebut pernyataan tersebut mengejutkan dan tidak terduga.

Dalam pernyataannya, Ayatollah Lankarani menyampaikan:

“Bismillahirrahmanirrahim
Wahai umat Islam, para ulama, dan khususnya para ulama Al-Azhar yang terhormat,
Salam sejahtera bagi Anda semua.

Saya memperhatikan pernyataan Al-Azhar yang sungguh mengejutkan dan sama sekali tidak terduga. Sungguh sulit bagi saya untuk menerima bahwa universitas terkenal dengan catatan ilmiahnya dan kedudukan religiusnya yang lama, bisa mengeluarkan pernyataan seperti itu.

Meskipun kami tidak melupakan sikap mulia dan penuh perhatian Al-Azhar terhadap rakyat Gaza, pernyataan terhadap pemerintah Iran ini menimbulkan pertanyaan di kalangan ulama Islam.

Apakah Al-Azhar bertanya pada diri sendiri mengapa negara-negara di kawasan memberikan tanah dan udara mereka untuk digunakan oleh kafir dan Yahudi? Apakah kalian menyadari bahwa tujuan mereka hadir dan menguasai kawasan ini adalah untuk menjarah kekayaan umat Muslim dan menghancurkan penduduk serta properti mereka?

Apakah Al-Azhar melupakan ayat-ayat yang melarang tunduk kepada kekuatan kafir dan Yahudi? Tidakkah kalian membaca ayat: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai wali, dengan menaruh kasih sayang kepada mereka, padahal mereka kafir terhadap kebenaran yang datang kepadamu; mereka mengusir Rasul dan kalian.” (Al-Mumtahanah 1)

Bukankah hak bagi Iran Islam untuk melindungi diri dari agresi yang terus berlangsung, yang didukung oleh negara-negara pengkhianat, sebagaimana firman Allah: “Barangsiapa menyerang kalian, maka balaslah serangan mereka dengan serangan yang setara.” (Al-Baqarah 194)

Apakah pemerintah Iran tidak berhak untuk menolak dan menghadapi agresi dengan cara setimpal terhadap kejahatan tersebut? (An-Nahl 126)

Apakah secara syariat Iran diperbolehkan menghadapi serangan biasa ini, sebagaimana firman Allah: “Diperbolehkan bagi orang-orang yang diperangi karena mereka dizalimi; dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa menolong mereka.” (Al-Hajj 39)

Tidakkah kalian merenungkan ayat: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadi teman bagi suatu kaum yang dimurkai Allah.” (Al-Mumtahanah 13)

Apakah kalian tidak menjadikan ayat: “Kamu tidak akan menemukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir yang menolong orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadalah 22) sebagai tolok ukur praktis bagi perilaku umat?

Apakah pernyataan kalian sesuai dengan Hadis Ath-Thaqalayn, atau justru bertentangan dengan tujuan Al-Qur’an dan Ahlul Bait?

Apakah Al-Azhar mengabaikan prinsip-prinsip fiqh universal? Bukankah kitab fiqh menegaskan status kekafiran bagi Muslim yang mendukung kafir atau musuh Islam, sehingga bila Muslim menjadi pelindung kafir, maka menghancurkan mereka adalah wajib demi membela Muslim lainnya?

Bayangkan, bila Nabi Muhammad SAW hidup di zaman kita, apakah beliau akan mendukung Amerika, Israel, dan pemerintah tirani kawasan? Ataukah beliau akan tetap membela Iran Islam?

Jika kita, sekadar berhipotesis, mengabaikan dalil Qur’an dan hadis, apakah akal sehat tidak menuntut perlindungan darah dan wilayah Muslim saat menyaksikan pengkhianatan negara-negara kawasan terhadap Iran?

Tidakkah kalian menyaksikan bagaimana musuh membom sekolah anak-anak di Minab pada awal perang, menewaskan lebih dari 160 anak perempuan yang tak bersalah?

Dengan dalil apa Al-Azhar membela pemerintah-pemerintah pengkhianat, bahkan mengkritik pertahanan Iran? Apakah agresi musuh dianggap sah sementara pertahanan Iran dianggap salah?

Tidakkah kalian membaca ayat: “Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan benar; dan siapa yang dibunuh secara zalim, maka Kami memberikan kekuasaan kepada walinya, jangan berlebihan dalam membunuh, karena sesungguhnya ia mendapat pertolongan.” (Al-Isra’ 33) untuk mengutuk kafir yang zalim dan menegur negara pengkhianat?

Wahai ulama Al-Azhar, mengapa kalian diam atas syahidnya pemimpin Muslim di Iran, yang menegakkan kemuliaan Islam dan martabat umat Muslim sedunia? Sementara pernyataan kalian bertentangan dengan ruh Al-Qur’an: “Barangsiapa membalas dengan setimpal, kemudian dizalimi lagi, Allah pasti menolongnya.” (Al-Hajj 60)

Apakah Al-Azhar tidak menyadari bahwa pernyataan semacam ini akan menunjukkan kelemahan ilmiah dan kerentanan intelektualnya?

Oleh karena itu, saya menyerukan kepada para ulama Islam, khususnya Al-Azhar, untuk meneliti secara mendalam situasi saat ini, mempelajari peristiwa yang terjadi di dunia Islam dengan seksama, dan mengambil sikap yang benar sesuai kewajiban syariat, agar selamat di hadapan Allah, Rasul-Nya, dan wali-Nya, serta tidak termasuk golongan orang yang menyembunyikan wahyu Allah demi keuntungan duniawi. (Al-Baqarah 174)

Akhirnya, kami memohon kepada Allah: “Ya Allah, curahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir.” (Al-Baqarah 250)

Qum, Pusat Ilmu Agama
Muhammad Javad Fazel Lankarani
28 Ramadan 1447 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *