Washington, Purna Warta – Amerika Serikat akhirnya mengakui kehilangan pesawat tanpa awak (drone) pengintai mahal jenis MQ-4C “Triton” yang dilengkapi peralatan pengawasan sensitif, di kawasan Teluk Persia pada 9 April. Nilai pesawat tersebut diperkirakan mencapai sekitar 238 juta dolar AS.
Pengakuan tersebut muncul setelah hilangnya sinyal pelacakan secara tiba-tiba, sementara sebelumnya pertahanan udara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa mereka telah menargetkan drone tersebut.
Angkatan Laut AS tidak memberikan rincian lokasi jatuhnya pesawat, namun laporan terakhir menunjukkan drone tersebut berada di wilayah udara internasional yang mengarah ke Iran.
Menurut situs “The War Zone”, drone yang bernilai sekitar 238 juta dolar itu sedang menjalankan misi pengintaian maritim di atas Teluk Persia dekat Selat Hormuz ketika tiba-tiba menghilang dari sistem pelacakan penerbangan daring.
Drone buatan perusahaan Northrop Grumman itu dilaporkan lepas landas dari Pangkalan Udara Sigonella milik Angkatan Laut AS di Italia, dan mampu terbang lebih dari 24 jam pada ketinggian hingga 50.000 kaki.
Angkatan Laut AS tidak merilis rincian apa pun mengenai puing-puing pesawat tersebut.
Perlu dicatat bahwa Iran sebelumnya menyatakan bahwa sistem pertahanannya telah menembak jatuh sekitar 170 drone AS dan Israel, termasuk sejumlah unit yang bernilai sangat mahal, namun Washington dan Tel Aviv belum secara terbuka mengonfirmasi sebagian besar kerugian tersebut.
Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali meningkat seiring berlanjutnya aktivitas pengintaian militer Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz dan perairan strategis kawasan tersebut. Sejumlah analis menilai insiden hilangnya drone ini menambah daftar panjang risiko konfrontasi langsung antara kekuatan militer AS dan Iran di wilayah yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.


