Jakarta, Purna Warta – Momen Idul Adha kembali tiba. Di balik syariat penyembelihan hewan kurban, tersimpan pesan spiritual yang begitu dalam. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengungkapkan bahwa kurban bukan semata-mata soal menyembelih hewan, melainkan wujud dari pengorbanan diri demi nilai ketakwaan.
Baca juga: Ortu Laporkan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi ke Bareskrim Soal Kebijakan Kirim Siswa ke Barak
Menurut Haedar, kurban tidak hanya tentang daging dan darah. Lebih dari itu, esensinya terletak pada sejauh mana seseorang mampu melepaskan keterikatan duniawi demi kebaikan yang lebih luas.
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya,” ujar Haedar mengutip Surah Al-Hajj ayat 37, dalam keterangan persnya, Kamis (5/6/2025).
Haedar menegaskan bahwa ketika seseorang benar-benar ikhlas, maka jiwa, hati, pikiran, dan rasa akan terbebaskan dari belenggu duniawi. Semua itu, katanya, harus ditujukan lillahi ta’ala demi meraih rida dan karunia Allah SWT.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa segala sesuatu yang kita miliki—mulai dari harta, jabatan, hingga kenikmatan duniawi—sebenarnya bersifat nisbi dan tidak abadi. Karena itulah, Allah SWT mengajarkan umat-Nya untuk belajar berkurban, yaitu melepaskan yang fana demi yang hakiki.
Artinya, manusia diminta memanfaatkan segala hal duniawi itu sebagai jalan ibadah dan untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk ditimbun secara serakah atau dijadikan alat kekuasaan.
Dalam pesannya, Haedar menyoroti sifat dasar manusia yang condong pada keinginan untuk menguasai. Ketika seseorang larut dalam godaan harta, kekuasaan, dan pesona dunia, ia akan kehilangan rasa cukup dan cenderung menghalalkan segala cara, bahkan termasuk tindakan tercela seperti korupsi.
“Manusia yang rakus dengan segala pesona duniawi, ia tidak akan pernah cukup sampai Tuhan menghentikan ajalnya. Alhâkumut takâtsur, ḥattâ zurtumul-maqâbir (bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur),” tutur Haedar, mengutip Surah At-Takatsur.
Oleh karena itu, ia mengajak setiap orang beriman untuk melakukan muhasabah, meninjau kembali apakah selama ini hidup mereka telah dikuasai ambisi yang tak terbatas, ketamakan, serta kesombongan yang menjauhkan dari nilai-nilai luhur ketakwaan.
“Lepas segala kepentingan demi kebenaran, kebaikan, dan keluhuran, dan untuk kemaslahatan hidup orang banyak,” pesan Haedar.
Jika pesan ini benar-benar dihayati dan diwujudkan, lanjutnya, maka ibadah kurban sejati mampu membebaskan manusia dari jebakan duniawi. Pada akhirnya, hidup menjadi lebih sederhana, cukup, dan membawa manfaat besar, baik untuk kehidupan dunia maupun bekal di akhirat kelak.


