Jakarta, Purna Warta – Isu yang beredar mengenai sulitnya negosiasi tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) disebut-sebut sebagai imbas dari keanggotaan Indonesia dalam aliansi BRICS. Namun, pihak Istana langsung membantah keras tudingan tersebut. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, memastikan tidak ada hubungan antara keanggotaan Indonesia di BRICS dengan terhambatnya perundingan tarif dengan Washington.
Baca juga: Perjanjian Dagang IEU-CEPA Segera Rampung, Penandatanganan Direncanakan Kuartal III 2025
Negosiasi tarif antara kedua negara memang masih belum menemui titik terang, meskipun Indonesia telah menyerahkan proposal negosiasi kepada AS sejak April 2025. Dalam pengumuman terbarunya, Presiden AS Donald Trump tetap menetapkan tarif impor sebesar 32% untuk Indonesia, angka yang tidak berubah dari penetapan awal.
“Kalau menurut pendapat kami sesungguhnya tidak ada. Karena itu kan kalau saudara-saudara perhatikan kan tidak hanya berlaku untuk Indonesia akan begitu,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (11/7/2025).
Prasetyo menekankan bahwa rentang waktu antara resmi bergabungnya Indonesia ke BRICS dengan pengumuman tarif AS cukup jauh, sehingga sulit untuk mengaitkan keduanya. Menurutnya, tidak ada alasan bagi AS untuk memperlakukan Indonesia secara berbeda hanya karena Indonesia kini menjadi anggota BRICS.
Sejak awal berdirinya, BRICS memang dikenal gencar mengeluarkan kebijakan yang menantang dominasi AS dan negara sekutu maju. Salah satu agenda utamanya adalah dedolarisasi, yaitu upaya mengurangi ketergantungan global terhadap Dolar AS.
Baca juga: Anies Baswedan Hadiri Rapimnas Gerakan Rakyat, Tekankan Pentingnya Menjaga Demokrasi
Di sisi lain, Presiden Trump juga beberapa kali melontarkan peringatan keras kepada negara-negara anggota BRICS. Terakhir, saat pertemuan puncak BRICS di Brasil, Trump bahkan mengancam akan mengenakan tarif resiprokal tambahan hingga 10% bagi negara anggota BRICS yang menerapkan kebijakan yang dianggap anti-Amerika. Pada saat itu, Indonesia untuk pertama kalinya hadir di forum elite BRICS, diwakili langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.


