Jakarta, Purna Warta – Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menilai bahwa aksi penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras, Andrie Yunus, bukanlah tindakan kriminal biasa yang dilakukan secara spontan oleh satu atau dua orang.
Baca juga: Pramono Anung Prediksi Lonjakan Pendatang ke Jakarta Usai Lebaran 2026
Menurutnya, terdapat indikasi kuat bahwa peristiwa tersebut melibatkan pihak yang lebih luas dan terorganisir. Hal ini ia sampaikan saat ditemui usai acara open house Lebaran 2026 di kediamannya di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (21/3/2026) malam.
“Dari awal ini bukan kriminal biasa. Dan tidak mungkin hanya dikerjakan oleh 1-2 orang secara sporadik. Dan itu juga disampaikan Pak Novel, ini terlihat sekali bahwa itu terencana, terorganisir,” kata Anies.
Anies juga menyoroti latar belakang Andrie sebagai aktivis yang aktif menyuarakan berbagai isu, termasuk tanda-tanda kemunduran demokrasi bersama rekan-rekannya. Ia menilai bahwa serangan tersebut tidak hanya menyerang individu, tetapi juga menjadi ancaman serius terhadap kebebasan berpendapat di Indonesia.
“Lagi-lagi kita harus melihat ini sebagai sebuah ancaman bagi demokrasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Anies menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam menjamin perlindungan kebebasan berbicara serta memastikan penegakan hukum berjalan secara adil dan menyeluruh. Ia meminta agar penyelidikan tidak berhenti pada pelaku di lapangan saja, tetapi juga mengungkap pihak yang berada di balik perintah tersebut.
“Peristiwa ini harus diselidiki sampai pada pemberi perintahnya. Dan harus dielaborasi mengapa ada perintah itu, mengapa sampai ada perintah itu, mengapa sampai ada tugas itu,” kata Anies.
Dalam pernyataannya, Anies juga menyatakan kesepakatannya dengan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk terorisme. Ia menekankan bahwa komitmen Presiden untuk mengusut kasus ini harus dijalankan secara serius oleh seluruh aparat penegak hukum.
“Bahwa Pak Presiden bersikap ingin melindungi demokrasi, aparat di bawahnya harus menjalankan arahan Presiden,” pungkasnya.
Sementara itu, hasil penyelidikan awal mengungkap bahwa empat prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) diduga terlibat dalam aksi penyiraman air keras terhadap aktivis tersebut.
Baca juga: Kardinal Suharyo Kunjungi Menag Nasaruddin Umar di Momen Idul Fitri 1447 H
“Keempat yang diduga pelaku ini adalah Denma Bais TNI,” ujar Danpuspom TNI Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Yusri Nuryanto dalam jumpa pers di Mabes TNI, Jakarta, Rabu.
Yusri menjelaskan bahwa keempat oknum tersebut berinisial Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES, yang berasal dari matra Angkatan Laut dan Angkatan Udara.
“Matranya dari Angkatan Laut dan Angkatan Udara,” ujar dia.
Saat ini, keempat prajurit tersebut telah diamankan dan ditahan di Pomdam Jaya untuk proses lebih lanjut. Namun demikian, pihak TNI masih mendalami motif di balik aksi penyiraman air keras tersebut.
“Jadi kita masih mendalami motifnya,” tegas dia.


