
PurnaWarta – Tambang Ouagadougou di pusat ibu kota Burkina Faso terletak di antara jalan, pemukiman penduduk, dan gedung administasi di Kota Pissy. Tambang ini digali sudah lebih dari 40 tahun. (AFP/John Wessells).
Tambang Ouagadougou di Burkina Faso tidak hanya mempekerjakan penambang pria, tapi juga wanita dan remaja. Mereka diminta menghancurkan batu granit menjadi kerikil kecil sebelum dijual. (AFP/John Wessells).
Bagi penambang, hasil kerja keras mereka dihargai sangat murah, sekitar 1-2 euro per hari. “Dengan uang ini, saya harus memberi makan anak-anak, membayar sekolah mereka. Tetapi, ini sangat sulit. Saya sudah bekerja selama 10 tahun dan sampai sekarang saya belum berhasil. Ini sungguh menyedihkan,” ujar Abarat Nikiema, salah satu penambang wanita di Burkina Faso. (AFP/John Wessells).
Batu granit dari tambang Ouagadougou di Burkina Faso banyak digunakan sebagai bahan bangunan, batu paving atau jalan. (AFP/John Wessels).
Yang paling menyedihkan, dengan kerja keras penambang, upah yang sangat murah, mereka dihadapkan dengan risiko yang besar, seperti luka tertimpa palu atau terkena serpihan granit. Belum lagi, risiko kesehatan jangka panjang akibat menghirup debu dan asap beracun karena minimnya perlindungan diri di area kerja pertambangan. (AFP/John Wessells).







