[KARIKATUR] – Iran Menang AS-ISRAEL Menyerah

perang yang dipaksakan Amerika terhadap Iran tidak hanya tidak menghasilkan penghapusan Iran dari perhitungan regional, tetapi sekali lagi menunjukkan bahwa tidak ada tatanan keamanan yang stabil di Asia Barat yang dapat dibayangkan tanpa mempertimbangkan bobot geopolitik Republik Islam.

Kemenangan dalam perang tidak hanya diukur dengan menghitung korban atau tingkat kerusakan infrastruktur. Dalam literatur kajian strategis, pemenang sejati adalah pihak yang mampu mewujudkan tujuan-tujuan politiknya dan mencegah pihak lawan mencapai tujuannya. Jika kriteria ini dijadikan dasar, pertanyaan pentingnya adalah: sampai sejauh mana Amerika dan rezim Zionis mencapai tujuan-tujuan yang dinyatakan dan tersembunyi?

Apakah mereka mampu menggulingkan sistem politik Iran? Apakah mereka berhasil memaksa Tehran menyerah? Apakah mereka menghancurkan pengaruh regional dan kemampuan gentar Republik Islam? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, setidaknya berdasarkan realitas yang ada, adalah negatif.

Iran hari ini, setelah melewati salah satu masa paling sulit dalam sejarah kontemporernya, bukan dalam posisi negara yang menyerah, melainkan dalam posisi aktor yang mampu dengan menjaga struktur politik dan kapasitas strategisnya, memaksa Amerika mengakhiri perang berdasarkan syarat-syarat Iran.

Sambutan dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap kesepakatan pengakhiran perang ini, bukan hanya sambutan atas padamnya api konflik, melainkan pengakuan tersirat terhadap realitas bahwa Republik Islam Iran, terlepas dari semua tekanan dan biaya, tetap menjadi salah satu pemain paling menentukan di salah satu titik paling sensitif di dunia.

Sejarah akan mencatat kesepakatan ini sebagai dokumen dari kegagalan perhitungan kekuatan yang mengira dapat menghapus Iran dari perhitungan regional; namun terpaksa menerima kelangsungannya dalam bentuk kesepakatan resmi.

Analisis ini mengajukan definisi kemenangan yang sangat menarik: bukan tentang siapa yang menghancurkan lebih banyak, tapi siapa yang mencapai tujuan politiknya. Dengan kriteria ini, Iran yang tidak mengalami perubahan rezim, tidak dilucuti, dan masih memiliki pengaruh regional, keluar sebagai “pemenang”, sementara AS yang tidak bisa menggulingkan rezim, tidak bisa memaksa penyerahan, dan harus mengakui eksistensi Iran, keluar sebagai pihak yang “gagal”. Ini adalah pembalikan total dari narasi awal perang, yang digambarkan sebagai “serangan kilat” yang akan dengan cepat melumpuhkan Iran. Yang paling menarik adalah penekanan pada “pengakuan tersirat” dunia: bahwa stabilitas Asia Barat tidak mungkin tanpa Iran. Ini adalah pengakuan geopolitik yang lebih berharga dari kemenangan militer mana pun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *