Pemeriksaan statistik impor barang-barang pokok menunjukkan bahwa klaim Trump tentang penjualan biji-bijian produk pertanian Amerika ke Iran tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas kebutuhan komersial dan struktur impor negara.
Pertama, Iran tidak menghadapi kekurangan sumber segera untuk memenuhi barang-barang pokok tahun ini dan memenuhi sebagian besar kebutuhannya dari sumber yang ada.
Kedua, kebutuhan riil yang tersisa hingga akhir tahun, khususnya di bidang jagung dan kedelai, jauh lebih rendah dari angka-angka yang diajukan dalam skenario pembebasan sumber.
Ketiga, diversifikasi sumber impor, keterbatasan logistik, waktu pelaksanaan kesepakatan yang mungkin, dan kemungkinan pembelian barang dari eksportir lain, semuanya adalah faktor-faktor yang membuat realisasi skenario yang diinginkan Trump menghadapi keraguan serius.
Akibatnya, bahkan jika sumber-sumber Iran yang dibekukan dibebaskan, hal ini tidak berarti Iran akan berubah menjadi pasar besar produk pertanian Amerika, dan klaim yang diajukan lebih dapat dievaluasi dalam kerangka narasi politis untuk audiens domestik Amerika daripada didasarkan pada realitas perdagangan luar negeri.
Laporan ini membongkar dengan sangat sistematis klaim Trump yang tampaknya “menjual” kesepakatan kepada konstituennya di Amerika , para petani. Logikanya sederhana tapi cerdik: “Lihat, saya membebaskan uang Iran, dan uang itu akan kembali ke kalian, para petani Amerika.” Ini adalah narasi politik yang sempurna untuk audiens domestik. Namun realitasnya jauh lebih kompleks: Iran tidak butuh uang tambahan untuk tahun ini, kebutuhan riilnya untuk jagung dan kedelai hanya ~3,5 miliar dolar (yang sudah bisa ditutup dari sumber yang ada), dan secara politik, membeli dari negara yang baru saja menyerang Anda bersama Israel adalah hal yang sulit dibenarkan. Ini adalah contoh klasik bagaimana propaganda politik sering kali bertabrakan dengan realitas ekonomi dan di Iran, realitas itu didokumentasikan dengan sangat rinci.


