HomeLainnyaIslamiMengkaji Kandungan Doa Sapu Jagad Ajaran Leluhur (Part 2)

Mengkaji Kandungan Doa Sapu Jagad Ajaran Leluhur (Part 2)

PurnaWarta — Pernah dengar istilah doa sapu jagat? Jika dilihat secara dzahir, doa sapu jagat adalah sebuah doa yang dipanjatkan pada Allah swt untuk diberikan kebaikan dunia dan akhirat.

Apa itu kebaikan dunia dan akhirat?

“penting kiranya bahwa kita harus bisa mementingkan dan mendahulukan keridhoan Allah swt dibanding keridhoan manusia. Karena ketika Allah swt ridho maka keridhoan manusia itu tidak penting lagi. Itu semua karena Allah swt adalah Dzat Yang Maha Kuasa dan manusia adalah sesosok makhluk yang lemah juga tidak punya apa-apa. Jika kita telah mampu melakukan hal ini maka kebaikan dunia dan akhirat ada pada genggaman kita. ”

Makna Dunia dan Akhirat Menurut Ilmu Akhlak

Dalam ilmu akhlak, makna dunia akan menjadi berlawanan dengan makna akhirat. yakni para ulama akhlak jika mereka mengatakan bahwa dunia dan akhirat itu tidak akan pernah bertemu yakni bermakna bahwa jika kita ingin mendapatkan kebahagiaan di akhirat maka kita harus meninggalkan dunia.

Kalau boleh, mungkin kata dunia dalam ilmu akhlak adalah sebagai sesuatu yang buruk sedangkan akhirat adalah sesuatu yang baik. Akan tetapi, esensinya, segala yang Allah swt ciptakan adalah sesuatu yang baik. Alladzi ahsana kulla syaiin khlaqah. Jika dunia dalam ilmu akhlak bermakna sesuatu yang buruk, yang dimaksud adalah mencintai dunia. Seperti yang difirmankan Allah swt dalam al-Quran;

مَنْ كانَ يُريدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ في‏ حَرْثِهِ وَ مَنْ كانَ يُريدُ حَرْثَ الدُّنْيا نُؤْتِهِ مِنْها وَ ما لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصيب

“Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan di dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” (Surah Asy-Sura, ayat 20).

Jika kita mengatakan menginginkan akhirat yakni bermakna bahwa kita cinta dan mempunyai ketergantungan pada akhirat. lalu jika kita mengatakan menginginkan dunia maka kita mencintai dunia. Di sinilah ketika kata dunia disandingkan dengan akhirat maka makna yang sampai menjadi hakikatya bukan menjadi sesuatu yang buruk, namun lebih bermakna sesuatu yang menghinakan.

Lalu apakah dunia dan akhirat menurut ilmu akhlak akan bisa menyatu? Tentu saja jawabannya adalah tidak. Namun bukan berarti bahwa ketika kita menginginkan dunia maka kita tidak bisa menginginkan akhirat. jika kita mencari dan menginginkan dunia dikarenakan Allah swt maka hakikatnya kita sedang menginginkan akhirat.

Misalnya saja, ketika kita bekerja setiap hari sehingga bisa menghasilkan uang lalu dengan uang tersebut kita bisa memberikan nafkah yang halal pada keluarga, membiayai pendidikan anak-anak, membantu tetangga, membangun masjid, maka hakikatnya kita tidak mencari untuk dunia akan tetapi kita mencari untuk akhirat.

Sekali lagi, jika dunia dimaknai sesuatu yang menghinakan dan akhirat dimaknai dengan sesuatu yang sangat mulia maka keduanya tidak bisa bersatu.

Setiap setelah shalat ataupun di banyak kesempatan lainnya, kita selalu memanjatkan doa, “Ya, Tuhan Kami berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari api neraka.” (QS al-Baqarah [2]: 201).

Rasulullah SAW memberi petunjuk praktis untuk merealisasikan doa di atas dalam hadis, “Empat perkara yang apabila diberikan kepada seseorang maka sungguh dia telah mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat: Pertama, hati yang  senantiasa bersyukur. Kedua, lisan yang senantiasa berzikir. Ketiga, tubuh yang bersabar ketika mendapat cobaan, dan Keempat, istri yang berusaha tidak berkhianat pada dirinya dan harta suaminya.” (HR Thabrany).

Pertama,  menurut Imam al-Ghazaly, hati yang bersyukur adalah hati yang senantiasa menerima setiap pemberian Allah SWT dengan penuh kegembiraan. Sekecil apa pun pemberian-Nya diterima dengan penuh kebahagiaan dan dianggap sebagai nikmat. Orang yang hatinya selalu bersyukur tidak akan bersedih dan berkeluh kesah, ketika mendapat nikmat sekalipun kecil dan tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Perasaan gembira dan bahagia ketika mendapat nikmat akan mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat dalam bentuk berkah (tambahan kebaikan).  “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.”(QS Ibrahim [14]: 7).

Kedua, lisan yang berzikir merupakan ekspresi keimanan dan rasa syukur kepada Allah SWT. Bentuknya beragam, bisa tahmid, tahlil, takbir, tasbih, atau membaca Alquran. Apa pun bentuknya, yang pasti zikir kepada Allah merupakan salah satu amalan yang dapat mendatangkan ketenangan jiwa. “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’d [13]: 28). Ketenangan jiwa inilah yang akan mendatangkan kebaikan, baik dunia maupun akhirat.

Must Read

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 + 17 =