Al-Quds, Purna Warta – Gadi Shamni, mantan komandan divisi Jalur Gaza di militer rezim Zionis, pada Minggu mengatakan: “Pernyataan bahwa (rezim) Israel telah menguasai wilayah darat maupun bawah tanah di Gaza dalam serangan terbaru adalah keliru.”
Baca juga: Lebih dari 200 diplomat Uni Eropa Menyerukan Tindakan Mendesak Terhadap Israel
Shamni menambahkan bahwa Hamas telah kembali membangun terowongan, dan selama gerakan itu ada, peluang untuk menyerang tentara Israel akan terus meningkat. Mantan pejabat Zionis itu juga menekankan bahwa dua tujuan Israel—yaitu memulangkan para tawanan dan menghancurkan Hamas—bertentangan satu sama lain.
Norwegia: Tindakan Israel di Gaza adalah kriminal
Andreas Kravik, Wakil Menteri Luar Negeri Norwegia, menyoroti situasi kritis di Gaza dengan menekankan:
“Apa yang terjadi di Jalur Gaza merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional, dan peristiwa 7 Oktober 2023 tidak bisa dijadikan alasan untuk tindakan kriminal rezim Zionis di wilayah ini.”
Kravik menyatakan bahwa rezim Zionis pendudukan telah melancarkan perang terhadap rakyat Palestina di Gaza yang sama sekali tidak memiliki legitimasi hukum internasional. Ia menambahkan:
“Sebagai tanggapan terhadap situasi ini, Norwegia telah menjatuhkan sanksi terhadap Itamar Ben-Gvir, menteri keamanan dalam negeri, dan Bezalel Smotrich, menteri keuangan rezim Israel.”
CNN: Jaringan terowongan Hamas sangat kompleks, melebihi perkiraan militer Israel
Stasiun televisi Amerika, CNN, melaporkan dengan mengutip seorang pejabat militer Zionis bahwa jaringan terowongan yang dibangun Hamas bukan sekadar rangkaian terowongan serupa, melainkan jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan militer Israel.
Jaringan itu mencakup pusat-pusat strategis besar serta terowongan taktis kecil yang digunakan untuk pergerakan cepat dan serangan mendadak.
CNN juga melaporkan, mengutip pejabat militer Zionis, bahwa pasukan Israel tidak mampu menembus jauh ke dalam Kota Gaza meski perang telah berlangsung hampir dua tahun.
CNN turut mengutip Alex Blixtas, seorang pakar militer Amerika, yang menekankan bahwa Hamas bukan hanya kekuatan militer. Ia menambahkan:
“Meski terus berhadapan dengan tentara rezim Zionis, gerakan ini terus merekrut pejuang untuk bergabung dalam perjuangan melawan musuhnya.”
Pakar Palestina: Membombardir Gaza tidak membawa kemenangan bagi penjajah
Omar Ja’ara, pakar urusan militer Palestina, menyatakan bahwa para pejabat rezim Zionis sendiri mengakui bahwa bahkan dengan kekuatan udara yang besar, angkatan udara mereka tidak bisa meraih kemenangan dalam peperangan.
Ia mengatakan:
“Membombardir Gaza tidak membawa kemenangan bagi para penjajah.”
Dalam wawancara dengan stasiun TV Al-Aqsa, peneliti Palestina itu menambahkan:
“Meski mendapat dukungan AS, angkatan udara rezim Zionis hanya membawa kehancuran dan pembunuhan warga sipil dengan dalih bahwa perlawanan menggunakan mereka sebagai tameng manusia. Namun, propaganda ini tidak meyakinkan siapa pun; justru telah memicu gelombang penolakan global terhadap rezim pendudukan.”
Front Populer untuk Pembebasan Palestina: Bangsa Yaman tak terkalahkan
Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP), dalam sebuah pernyataan yang mengecam agresi terbaru rezim pendudukan terhadap Sana’a, ibu kota Yaman, menegaskan bahwa rakyat Yaman tidak akan gentar dan akan terus mendukung Gaza.
PFLP menyatakan:
“Kami mengecam agresi brutal terhadap Yaman dan memandangnya sebagai upaya gagal untuk menundukkan rakyat Yaman dan menghentikan operasi mereka dalam mendukung Palestina dan Gaza.”
Baca juga: Penjelasan: Apa itu ‘Sampar Anak Sulung’ yang Disebut Menteri Perang Israel terhadap Yaman
Pernyataan itu menambahkan:
“Kami menyatakan solidaritas dengan para pemimpin, kekuatan, dan rakyat Yaman, serta meyakini bahwa bangsa pemberani dan teguh ini tidak akan pernah menerima kekalahan atau menyerah, dan akan terus berjuang demi Palestina.”


