Penjelasan: Apa itu ‘Sampar Anak Sulung’ yang Disebut Menteri Perang Israel terhadap Yaman

Explainer

Al Quds, Purna Warta – Serangan udara Israel menghantam lokasi-lokasi penting di Sana’a pada Minggu, termasuk pembangkit listrik Hazeiz dan sebuah depot bahan bakar sipil. Serangan itu membuat sebagian kota terbenam dalam kegelapan.

Baca juga: PBB Tuntut Akuntabilitas atas Serangan Israel ke Rumah Sakit Gaza yang Menewaskan Jurnalis

Rekaman yang beredar daring memperlihatkan asap tebal dan kobaran api membubung di atas kawasan permukiman, menegaskan bahwa target yang dihantam adalah warga sipil biasa.

Dalam pernyataan yang tajam dan sangat mengganggu, Israel Katz menggunakan gambaran ekstrem dari kisah Alkitab, mengancam Yaman dengan “sampar anak sulung”—sebuah kerangka yang membingkai agresi militer masa depan sebagai tindakan menyapu dan menghukum.

Retorika ini menggema dengan bahasa genosida yang sudah sering digunakan oleh pejabat rezim Israel dalam perang genosida di Gaza—yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 62.000 warga Palestina—dan kini tampaknya secara eksplisit diperluas ke Yaman.

Ancaman Katz menandai eskalasi berbahaya, yang menunjukkan niat untuk menargetkan infrastruktur sipil dan mata pencaharian rakyat Yaman secara indiscriminatif. Hal ini juga mencerminkan pola penggunaan kekuatan yang sangat besar untuk menakut-nakuti seluruh populasi, dengan anak-anak kini secara terang-terangan dijadikan sasaran.

Apa itu “Sampar Anak Sulung” dalam kisah Alkitab?

“Sampar Anak Sulung” adalah tulah kesepuluh dan terakhir dalam kisah Keluaran (Exodus 11–12), digambarkan sebagai tindakan penghakiman ilahi yang dahsyat terhadap Mesir karena Firaun terus menolak membebaskan bangsa Israel dari perbudakan.

Tulah ini mengakibatkan kematian setiap anak sulung laki-laki di Mesir, mulai dari putra keluarga kerajaan hingga rumah tangga paling miskin, bahkan mencakup anak sulung dari semua ternak.

Pelaksanaannya digambarkan mendadak dan menyeluruh, membawa ratapan dan dukacita yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh negeri Mesir.

Peristiwa ini dipahami bukan hanya sebagai konfrontasi dengan otoritas Firaun, tetapi juga sebagai perlawanan terhadap dewa-dewa Mesir, menegaskan klaim teologis tentang supremasi kekuasaan ilahi.

Sebelum tulah itu, Musa telah memperingatkan Firaun secara jelas, menyampaikan bahwa kebinasaan akan menimpa anak sulung manusia maupun hewan.

Sementara itu, bangsa Israel menerima instruksi untuk menandai tiang pintu rumah mereka dengan darah anak domba kurban. Tanda itu membuat Tuhan “melewati” rumah mereka sehingga anak sulung Israel selamat.

Baca juga: Qatar: Israel Mengulur Waktu Menanggapi Usulan Gencatan Senjata Gaza

Efek paling langsung dari tulah ini adalah runtuhnya perlawanan Firaun, yang akhirnya memerintahkan Musa dan Harun agar membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dengan segera.

Kisah ini menekankan perbedaan tajam antara kedua bangsa: tidak ada satu pun anak sulung Israel yang binasa, menegaskan pemisahan yang disengaja dan ditegakkan secara ilahi.

Kapan kisah ini dipakai dalam retorika politik?

Narasi sampar anak sulung berakar kuat dalam tradisi Yudeo-Kristen, melambangkan penghukuman keras dari Tuhan, dan paling sering digunakan oleh kalangan Zionis, Kristen radikal, serta kelompok sayap kanan.

Referensi terhadap tulah ini kadang muncul dalam retorika politik, meskipun penggunaannya sering kontroversial karena implikasi kekerasan dan teologisnya.

Karena tulah ini menyangkut kematian anak-anak, metafora tersebut sangat sensitif. Kebanyakan politisi menghindarinya untuk mencegah kecaman atau tuduhan ekstremisme.

Namun, ketika digunakan, biasanya berfungsi sebagai kritik moral keras terhadap sistem atau pemimpin yang dianggap menindas dan korup.

Di AS, beberapa aktivis memakai metafora ini untuk menggambarkan aborsi legal sebagai bentuk “sampar modern,” menarik paralel antara penghukuman ilahi zaman kuno dengan dosa sosial masa kini.

Dalam konteks perang atau krisis kemanusiaan, sebagian pengkritik kadang menyebut metafora ini untuk menyoroti penderitaan besar anak-anak, meski rujukan eksplisit pada “anak sulung” jarang dipakai karena konotasinya yang ekstrem.

Di kalangan nasionalis religius atau kelompok sayap kanan tertentu, bahasa tentang “tulah ilahi” sering bercampur dengan retorika apokaliptik, dipakai untuk memperingatkan kehancuran akibat korupsi politik atau keruntuhan budaya.

Namun, politisi arus utama umumnya menghindari perbandingan Alkitab semacam itu, karena dianggap bisa mengasingkan audiens luas dan menimbulkan tuduhan radikalisme.

Dalam politik Israel sendiri, kisah Keluaran kerap muncul dalam wacana hubungan luar negeri, dengan pihak lawan digambarkan sebagai “Firaun modern.”

Retorika Genosida Zionis dengan Rujukan Agama

Pejabat senior rezim Israel berulang kali menggunakan bahasa provokatif dan dehumanisasi yang merujuk langsung pada kisah-kisah Alkitab untuk membingkai agresi militer mereka terhadap Gaza. Para pengkritik dan pakar hukum internasional menegaskan bahwa retorika semacam ini menunjukkan niat genosida.

PM Benjamin Netanyahu memicu kontroversi dengan merujuk pada orang Amalek, musuh Alkitabiah yang dalam Perjanjian Lama diperintahkan untuk dimusnahkan total—termasuk perempuan, anak-anak, dan ternak. Pernyataan itu luas dipahami sebagai seruan pemusnahan warga Palestina di Gaza.

Amit Halevi (anggota Likud) menyarankan agar Gaza dibiarkan menjadi monumen kehancuran seperti Sodom, kota yang dihancurkan murka Tuhan dalam Kitab Kejadian.

Mantan menteri urusan militer Yoav Gallant mendeklarasikan pengepungan total Gaza sambil menyebut warganya sebagai “hewan manusia,” sebuah pernyataan yang kemudian dikutip dalam sidang Mahkamah Internasional (ICJ) terkait kejahatan perang.

Fondasi ideologis retorika ini berakar pada fanatisme religius, yang melihat Palestina historis sebagai tanah yang dijanjikan Tuhan, dan orang Palestina dianggap sebagai penghalang bagi mandat ilahi tersebut.

Menteri Bezalel Smotrich dan Itamar Ben-Gvir konsisten menyerukan pengusiran massal warga Palestina—yang sering dibungkus dengan istilah “migrasi sukarela”—sambil menolak eksistensi bangsa Palestina sama sekali.

Pandangan mereka sejalan dengan proyek ekspansionis “Israel Raya”, yang bertujuan untuk menyerap wilayah pendudukan secara permanen dan memperluas dominasi ke negara-negara sekitar.

Kekerasan dalam pandangan ini bukan sekadar strategi militer, melainkan dianggap sebagai pembersihan yang dibenarkan secara teologis. Hal ini diperkuat dengan komentar menteri warisan Amichai Eliyahu tentang penggunaan bom nuklir, serta seruan anggota Likud Ariel Kallner untuk melakukan “Nakba kedua.”

Normalisasi retorika semacam itu menunjukkan pergeseran berbahaya: dari wacana ekstremis ke bahasa politik arus utama, terutama sejak dimulainya genosida di Gaza yang meruntuhkan tabu lama dalam retorika publik.

Organisasi HAM internasional telah mendokumentasikan ratusan kasus hasutan publik terhadap genosida oleh pejabat, jurnalis, dan figur publik Israel. Hal ini menciptakan atmosfer di mana pembantaian massal warga sipil dan penghancuran budaya dibingkai sebagai mandat ilahi atau takdir sejarah.

Komunitas internasional, termasuk pakar PBB dan tim hukum Afrika Selatan di ICJ, menegaskan bahwa pernyataan-pernyataan tersebut adalah bukti niat sistematis untuk menghancurkan masyarakat Palestina di Gaza, sejalan dengan skala pemboman, blokade, dan pengusiran massal yang terjadi.

Meski kecaman hukum dan etika semakin keras, impunitas tetap merajalela—dengan negara-negara Barat hanya memberikan kritik ringan sambil terus mendukung Israel secara militer dan diplomatik.

Hal ini justru membuat para pejabat Israel semakin berani meningkatkan retorika ekstrem mereka, makin menjauhkan kemungkinan solusi politik, dan memperkuat logika eliminasi.

Kebertahanan narasi-narasi ini menunjukkan adanya komitmen ideologis mendalam terhadap visi kenegaraan eksklusif, yang menggunakan simbolisme teologis untuk melegitimasi ekspansi wilayah dan kontrol demografis.

Seiring berlanjutnya kekerasan genosida, retorika tentang penghukuman ilahi dan hak sejarah terus membentuk strategi militer, persepsi internasional, serta kenyataan sehari-hari warga Palestina yang hidup dalam pengepungan.

Oleh: Ivan Kesic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *