Ketertarikan Warga China Terhadap Iran Mulai Meningkat, Mulai Dari Sejarah Kuno Hingga Permusuhan Terhadap Amerika

china kuno

Purna Warta –  AS dan Israel membombardir berbagai tempat di Iran sampai merusak sejumlah situs-situs dan peninggalan sejarah Persia kuno. Namun, beberapa artefak Persia kuno berada 5.000 kilometer jauhnya di China, aman tak tersentuh serangan biadab AS dan Israel di bawah pengawasan Dong Bibing, seorang kurator museum.

Ia mengelola pameran lebih dari 150 barang antik Iran, mulai dari barang pecah belah bermotif bunga hingga karpet yang berwarna cerah dan berdesain rumit.

Sejak perang pecah pada akhir Februari, pameran di Hohhot, provinsi Mongolia Dalam, semakin populer. Hal ini terjadi seiring meningkatnya minat masyarakat China terhadap negara yang dalam hal peradaban kuno bersaingan dengan negara China.

Mulanya pameran ini dijadwalkan berakhir pada bulan Maret, namun diperpanjang hingga April dan baru saja berakhir pada hari Senin. Pameran tersebut akan segera dipamerkan di kota lain.

Dong mengatakan dia merasa sangat sedih ketika mengetahui bahwa situs bersejarah Iran, termasuk Istana Golestan yang juga merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO, mengalami kerusakan akibat perang.

“Namun sekarang, tepat di depan mata saya, ada koleksi artefak Iran yang luar biasa.”

Dong mengatakan: “Perang membuat saya merasakan dorongan ini untuk melindungi dan melestarikan artefak-artefak tersebut sebaik mungkin.”

Meskipun keduanya saat ini diperintah oleh pemerintahan revolusioner, Iran dan China sama-sama memiliki akar yang berasal dari ribuan tahun yang lalu.

Kota kuno Persepolis menampilkan kecanggihan arsitektur, tata kota, konstruksi dan seni di bawah Kekaisaran Akhemenid (550–330 SM) atau Iran kuno, menurut UNESCO dan termasuk di antara situs arkeologi yang tidak ada bandingannya dan menjadi saksi peradaban kuno.”

Menurut kementerian warisan budaya Iran, lebih dari 130 situs bersejarah Iran telah hancur atau rusak selama agresi AS terhadap Iran selama enam minggu. UNESCO menyatakan keprihatinannya tentang kerusakan situs budaya di Iran dan Lebanon.

Baik AS maupun Israel mengatakan bahwa mereka tidak sengaja menargetkan situs budaya atau sejarah. Namun, Presiden Donald Trump sebelumnya mengancam akan menghancurkan seluruh peradaban Iran jika negara itu tidak menuruti tuntutannya. Sebuah kontradiksi jelas yang bisa dipahami siapapun yang melihatnya.

Terkait dengan minat warga China untuk mengetahui lebih banyak mengenai Iran, para penjual buku terkemuka di Beijing mengkonfirmasi peningkatan minat tersebut.

“Buku-buku tentang Iran dulunya tidak laku, tetapi permintaannya meningkat akhir-akhir ini,” kata seorang pekerja di toko buku Page One di Beijing.

Di seluruh universitas China, mahasiswa juga banyak meminjam buku-buku tentang Iran untuk mempelajari mengapa AS ingin sekali memerangi negara tersebut begitupun sebaliknya.

Dengan adanya perang yang mengacaukan rantai pasokan global, banyak warga di China yang berusaha memahami bagaimana hal itu akan memengaruhi mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *