Washington, Purna Warta – United Airlines, salah satu maskapai penerbangan besar Amerika Serikat, dan Air France, maskapai nasional Prancis, dilaporkan telah menyetujui penerapan arahan Israel yang melarang pilot dan awak kabin dari negara-negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel untuk bertugas dalam penerbangan yang memasuki wilayah udara di atas wilayah pendudukan.
Menurut laporan lembaga penyiaran publik Israel, KAN, individu yang memiliki kewarganegaraan dari negara-negara yang belum menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, termasuk mereka yang memiliki kewarganegaraan ganda, kini dikenai pembatasan untuk menerbangkan pesawat menuju wilayah-wilayah yang diduduki Israel tersebut.
Pembatasan ini secara efektif akan menghalangi pilot dan awak kabin dari sejumlah negara Muslim untuk bertugas dalam penerbangan tersebut.
Larangan itu akan berdampak terhadap warga negara dari 31 negara, termasuk Aljazair, Tunisia, Iran, dan Pakistan, serta warga negara Prancis yang juga memiliki salah satu kewarganegaraan yang masuk dalam daftar pembatasan tersebut.
Air France telah memberitahukan kepada karyawan yang terdampak bahwa mereka tidak lagi diizinkan bertugas dalam penerbangan menuju wilayah pendudukan berdasarkan arahan baru dari rezim Tel Aviv.
Maskapai tersebut juga memperingatkan para karyawannya agar mengungkapkan kewarganegaraan kedua yang mereka miliki. Air France memperingatkan bahwa ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut dapat berujung pada tindakan disipliner.
Penerapan pembatasan ini oleh Air France berpotensi membuat maskapai tersebut menghadapi gugatan hukum di Prancis.
Sementara itu, Channel 13 Israel yang berbahasa Ibrani melaporkan bahwa setidaknya satu maskapai Israel yang tidak disebutkan namanya sedang melakukan pemeriksaan latar belakang terhadap sekitar 2.500 pilot dan awak kabin di sektor penerbangan Israel.
Perintah tersebut dikeluarkan menyusul dugaan upaya pembajakan yang dilakukan oleh kopilot berkewarganegaraan Oman pada penerbangan FlyDubai 1073, bernama Hammam al-Hammami. Insiden itu dilaporkan terjadi pada 30 September, ketika penerbangan dari Dubai menuju Tel Aviv diduga hendak dialihkan untuk ditabrakkan ke terminal di Bandara Ben Gurion.
Kopilot tersebut mengklaim kepada penyidik Uni Emirat Arab (UEA) bahwa ia bertindak seorang diri. Ia menyatakan telah menyerang kapten pesawat menggunakan kapak darurat sebelum berupaya melakukan aksi terorisme.
Meskipun demikian, sejumlah unsur dalam dugaan pembajakan tersebut dinilai tidak masuk akal, sehingga memunculkan dugaan bahwa insiden itu mungkin direkayasa sebagai bagian dari upaya propaganda Israel.
Salah seorang penumpang, Yaniv Hayun, berusia 50 tahun, mengaku bergegas menuju kokpit setelah peristiwa penusukan tersebut. Ia mengklaim berhasil melumpuhkan Hammami dan menstabilkan pesawat setelah pesawat itu dilaporkan mengalami penurunan ketinggian hingga 20.000 kaki.
Namun, Hayun, yang memiliki usaha di bidang perpipaan di Israel, tidak mempunyai pengalaman dalam dunia penerbangan.
Ia mengaku mengetahui cara memulihkan pesawat yang sedang menukik tajam setelah mempelajari tayangan sebuah acara televisi tentang kecelakaan pesawat. Menurut klaimnya, pengetahuan tersebut memungkinkannya menyelamatkan lebih dari 170 orang di dalam pesawat.
Bertentangan dengan laporan mengenai penurunan ketinggian pesawat tersebut, sejumlah penumpang terlihat berjalan dan berdiri di lorong kabin untuk melihat situasi di kokpit.
“Beberapa angka yang kita lihat dilaporkan tidak masuk akal. Sebab, jika pesawat turun secepat itu, pesawat tersebut seharusnya sudah hancur sepenuhnya,” ujar seorang pilot yang diwawancarai CNN.


