“Absurditas Represif”: Lebih dari 150 Penulis dan Aktivis Terkemuka Kecam Undang-Undang Inggris yang Melarang Palestine Action

Represive

London, Purna Warta – Lebih dari 150 aktivis politik pro-Palestina, aktor, pembuat film, musisi, penulis, jurnalis, sejarawan, dan filsuf di Inggris mengecam undang-undang pemerintah Inggris yang menetapkan kelompok pembela hak-hak Palestina, Palestine Action, sebagai organisasi teroris. Mereka menyebut langkah pemerintah Inggris tersebut sebagai “absurditas represif”.

Dalam sebuah surat terbuka yang ditandatangani sejumlah tokoh terkenal, termasuk Tariq Ali, J.M. Coetzee, William Dalrymple, Jonathan Glazer, Naomi Klein, Gary Lineker, Paul Mescal, Kate Nash, Arundhati Roy, Juliet Stevenson, Susan Sarandon, Tilda Swinton, Zadie Smith, Slavoj Žižek, serta grup hip-hop Irlandia Kneecap, para penandatangan mengecam tindakan pemerintah yang secara “langsung maupun tidak langsung” membatasi kebebasan berpikir dan kebebasan berbicara warga Inggris.

“Kami dengan tegas menolak penyensoran, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan mendesak pemerintah untuk mengubah arah kebijakannya dengan merevisi undang-undang yang telah membawa kita ke titik absurditas represif ini,” demikian pernyataan koalisi tersebut dalam surat terbuka yang dilaporkan The Guardian pada Rabu.

Surat itu juga menyatakan dukungan kuat kepada novelis Irlandia, Sally Rooney, yang buku-bukunya telah ditarik dari peredaran di Inggris.

“Sally Rooney adalah seorang penulis, bukan teroris. Buku-bukunya harus tersedia bagi masyarakat,” demikian bunyi surat tersebut.

Pekan lalu, Rooney dan penerbitnya, Faber, mengumumkan bahwa mereka terpaksa menghentikan penjualan buku-bukunya di Inggris karena dukungannya terhadap kelompok yang telah dilarang tersebut.

Pelarangan oleh pemerintah Inggris menempatkan Palestine Action dalam daftar hitam yang sama dengan kelompok bersenjata seperti Hamas dan Hizbullah. Akibatnya, menjadi anggota, mendukung, atau mendanai kelompok tersebut merupakan tindakan ilegal di Inggris.

Faber menyatakan bahwa pelarangan itu membuat pihaknya tidak dapat secara hukum menyalurkan royalti yang diperoleh dari penjualan buku di Inggris kepada Rooney.

“Penarikan buku-buku tersebut dari peredaran berdasarkan undang-undang antiterorisme yang dirancang secara keliru dan bersifat represif merupakan penghinaan terhadap prinsip-prinsip dasar kebebasan berbicara dan berekspresi yang selama ini dianggap wajar di negara ini,” tambah surat tersebut.

Rooney berulang kali menyatakan dukungannya terhadap Palestine Action dan menegaskan niatnya untuk memberikan dana kepada kelompok itu. Palestine Action tidak termasuk organisasi terlarang di Irlandia, tempat Rooney tinggal dan bekerja.

Meskipun penjualan bukunya di Inggris dihentikan, Rooney mengatakan bahwa dirinya akan terus menyampaikan gagasan dan niatnya secara bebas serta “sepenuhnya siap menerima konsekuensinya”.

Buku-buku Rooney telah terjual lebih dari enam juta eksemplar di seluruh dunia. Ia bahkan mendapat pujian sebagai “suara sebuah generasi”.

Rooney, penulis Irlandia berusia 30-an tahun, merupakan salah satu tokoh terkemuka yang memperjuangkan pembebasan Palestina.

Pemerintahan Partai Buruh Inggris menghadapi kecaman luas setelah menetapkan Palestine Action sebagai organisasi terlarang pada Juli 2025. Sejak saat itu, ribuan orang telah ditangkap karena memprotes keputusan tersebut.

Kelompok itu menyatakan bahwa tujuannya adalah mengakhiri “keterlibatan global dalam rezim Israel yang melakukan genosida dan apartheid”. Pelarangan terhadap kelompok tersebut dilakukan setelah serangkaian aksi protes yang menarik perhatian luas terhadap perang di Gaza, termasuk aksi menyasar pabrik-pabrik persenjataan milik Elbit, perusahaan persenjataan Israel.

Mahkamah Agung Inggris dijadwalkan mendengarkan banding terhadap pelarangan tersebut yang diajukan oleh salah satu pendiri Palestine Action, Huda Ammori, pada bulan depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *