UNICEF: Gencatan Senjata di Gaza yang Terkepung Merupakan “Ilusi Mematikan” bagi Anak-Anak Palestina

Unicef

Gaza, Purna Warta – Seorang anak Palestina yang berlumuran darah berdiri di tengah puing-puing akibat pemboman Israel di Gaza, Palestina.

Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mengecam apa yang disebut sebagai gencatan senjata di Jalur Gaza yang terkepung, yang diumumkan lebih dari delapan bulan lalu, dengan menyebutnya sebagai “ilusi yang kejam dan mematikan” bagi anak-anak dan generasi muda Palestina.

“Selama berbulan-bulan, dunia diberi tahu bahwa ada gencatan senjata di Gaza. Namun bagi anak-anak Palestina, apa yang disebut gencatan senjata itu telah berubah menjadi ilusi yang kejam dan mematikan,” kata juru bicara UNICEF, James Elder, dalam konferensi pers pada Jumat.

Elder mengungkapkan bahwa sedikitnya 265 anak telah terbunuh sejak gencatan senjata diumumkan, dengan lebih dari 90 persen di antaranya tewas akibat serangan Israel.

Sebagian anak lainnya juga meninggal akibat ledakan sisa amunisi yang belum meledak dan masih tersebar di antara reruntuhan wilayah Palestina yang diblokade tersebut.

“Anak-anak ini tidak terbunuh di zona perang,” tegas Elder. “Mereka dibunuh di rumah mereka, di sekolah mereka, saat bermain sepak bola, atau ketika memancing. Mereka ditembak, dibom, dan menjadi sasaran pesawat nirawak jenis quadcopter.”

Ia menambahkan bahwa hanya dalam pekan ini saja, seorang balita berusia dua tahun ditembak hingga tewas oleh pasukan Israel, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun ditembak dan dibunuh di dalam tendanya, sementara seorang anak berusia lima tahun dan ayahnya tewas akibat serangan udara Israel.

“Dan daftar korban itu terus bertambah,” ujarnya.

Juru bicara UNICEF tersebut menyebut jumlah anak Palestina yang terbunuh selama periode yang disebut sebagai masa gencatan senjata itu sebagai angka yang “tidak masuk akal dan sangat menghancurkan.”

“Dalam periode yang seharusnya ditandai oleh pengekangan dan perlindungan, rata-rata satu anak terbunuh setiap hari selama lebih dari delapan bulan,” katanya.

Selain korban jiwa, lebih dari 400 anak juga mengalami luka-luka sejak gencatan senjata diberlakukan, banyak di antaranya menderita cedera yang sangat parah.

Menurut Elder, ratusan anak lainnya sangat membutuhkan evakuasi medis segera. Namun, pembatasan Israel terhadap akses obat-obatan esensial memaksa anak-anak yang terluka menanggung rasa sakit yang luar biasa, sekaligus meningkatkan risiko infeksi, komplikasi medis, dan amputasi lebih lanjut.

Elder juga menyoroti dampak psikologis yang mendalam terhadap anak-anak Gaza.

“Ketakutan, kehilangan, dan kekerasan telah menjadi bagian yang menyatu dalam masa kanak-kanak mereka,” ujarnya.

Menurutnya, trauma yang dialami begitu berat hingga memengaruhi kemampuan anak-anak untuk makan, tidur, dan berkembang secara normal.

Meskipun gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025, rezim Israel disebut terus melanjutkan operasi militernya dengan melancarkan serangan berulang di berbagai wilayah Gaza, yang menurut laporan telah menewaskan sedikitnya 992 warga Palestina.

Sejak Oktober 2023, perang Israel di wilayah Gaza yang terkepung dilaporkan telah merenggut nyawa sekitar 73.000 warga Palestina, yang sebagian besar terdiri dari perempuan dan anak-anak, dalam apa yang digambarkan sebagai salah satu tragedi kemanusiaan paling mengerikan pada era modern.

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa keteguhan dan perlawanan rakyat Palestina dalam menghadapi situasi tersebut terus menyingkap hakikat rezim Zionis serta pihak-pihak yang mendukungnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *