Brussels, Purna Warta – Uni Eropa (UE) mengecam sejumlah menteri Israel atas dugaan hasutan kekerasan dan penyiksaan terhadap para aktivis yang ditahan setelah kapal bantuan kemanusiaan Sumud 2 menuju Gaza dicegat, menurut rancangan kesimpulan yang disiapkan menjelang KTT Uni Eropa pada 18–19 Juni mendatang.
Butir ke-22 dalam bagian Asia Barat pada dokumen tersebut menyatakan bahwa Dewan Eropa “mengecam perlakuan buruk yang dialami para tahanan setelah pencegatan armada Global Sumud di perairan internasional,” sebagaimana dilaporkan kantor berita Italia ANSA pada Selasa.
Rancangan itu juga menyerukan agar Dewan Uni Eropa “melanjutkan pekerjaannya terkait langkah-langkah pembatasan terhadap para menteri ekstremis yang menghasut dan mempromosikan pelanggaran hak asasi manusia semacam itu.”
Dokumen tersebut masih dibahas oleh para perwakilan tetap dari 27 negara anggota Uni Eropa dan masih dapat mengalami perubahan sebelum KTT berlangsung.
Menyusul Pencegatan Flotilla Kemanusiaan
Usulan tersebut muncul setelah Israel mencegat armada kemanusiaan Global Sumud di perairan internasional ketika sedang menuju Gaza.
Video yang dirilis otoritas Israel dan beredar luas di media sosial memperlihatkan Itamar Ben-Gvir berjalan di antara para aktivis yang ditahan, yang terlihat berlutut dalam barisan rapat dengan tangan terikat menggunakan kabel pengikat plastik (zip tie).
Rekaman tersebut memicu kecaman dari kelompok hak asasi manusia, organisasi internasional, serta sejumlah pemerintah di berbagai negara.
Sejak itu, Prancis dan Italia menyerukan respons yang lebih tegas dari Uni Eropa, termasuk kemungkinan penerapan sanksi.
Para pemimpin Uni Eropa diperkirakan akan membahas isu tersebut dalam KTT mendatang seiring upaya negara-negara anggota untuk mencapai posisi bersama terkait perkembangan terbaru di Gaza dan kawasan Asia Barat secara lebih luas.
Tuduhan Kekerasan terhadap Aktivis
Dalam pernyataan yang diterbitkan pada 8 Mei 2026, penyelenggara Global Sumud Flotilla (GSF) menyatakan bahwa kesaksian yang dihimpun dari para aktivis yang telah dibebaskan menunjukkan adanya “pola kekerasan fisik dan seksual yang serius serta perlakuan merendahkan yang sistematis” oleh pasukan Israel.
Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa para aktivis yang ditahan mengalami berbagai bentuk perampasan kebutuhan dasar secara sengaja, termasuk paparan suhu dingin, penyitaan pakaian hangat, serta akses yang tidak memadai terhadap makanan, air, dan tempat tidur. Kondisi tersebut dilaporkan menyebabkan sejumlah kasus hipotermia dan hipertermia.
Misi Mematahkan Blokade Gaza
Flotilla Musim Semi Sumud berangkat dari Prancis, Spanyol, dan Italia pada 12 April 2026 dengan tujuan yang dinyatakan untuk menembus blokade Israel atas Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina yang terdampak perang.
Pelayaran flotilla sebelumnya juga dicegat oleh pasukan Israel di lepas pantai Mesir dan Gaza.
Israel telah mengendalikan seluruh akses masuk ke Gaza sejak memberlakukan blokade terhadap wilayah tersebut pada tahun 2007.
Menurut angka yang disebutkan dalam laporan tersebut, sejak dimulainya perang pada 7 Oktober 2023, lebih dari 72.938 warga Palestina telah tewas dan sedikitnya 172.919 lainnya terluka.
Kampanye militer tersebut juga mengakibatkan kerusakan luas pada infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit, sekolah, fasilitas olahraga, pembangkit listrik, reservoir air, dan kawasan permukiman.
Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kesehatan Palestina, sebanyak 935 warga Palestina tewas dan 2.860 lainnya terluka sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.


