Gaza, Purna Warta – Sisa-sisa jenazah 105 warga Palestina telah dievakuasi dari bawah reruntuhan sebuah bangunan permukiman yang hancur akibat serangan militer Israel di distrik pusat Kota Gaza, setelah operasi pencarian yang berlangsung selama 17 hari.
Pada Rabu, para kerabat berkumpul di kawasan Al-Taj yang mengalami kerusakan parah untuk memberikan penghormatan terakhir kepada anggota keluarga mereka yang telah meninggal. Sementara itu, petugas darurat menata jenazah yang telah dibungkus kain kafan dalam barisan di antara reruntuhan.
Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa operasi evakuasi tersebut dilakukan bekerja sama dengan sebuah komite dari Mesir.
“Orang-orang ini adalah warga sipil dan manusia yang memiliki hak dasar untuk hidup dalam kondisi damai dan aman,” kata juru bicara Pertahanan Sipil, Mahmoud Basal, seraya kembali menyerukan perlindungan terhadap warga sipil di Gaza.
Hadir dalam acara tersebut Taghreed al-Hanawi, yang putrinya, Dr. Alia Ramzi al-Hanawi, tewas bersama suami dan empat anaknya.
“Keluarga mereka benar-benar telah dihapus dari daftar kependudukan,” ujarnya.
“Hari ini luka itu kembali terbuka, tetapi akhirnya saya dapat memeluk sisa-sisa jenazah mereka dan menguburkannya dengan bermartabat,” tambahnya.
Fawaz Ziyara, yang merupakan kerabat para korban sekaligus penyintas dari kawasan tersebut, mengatakan bahwa sekitar 300 orang tewas ketika bangunan permukiman itu terkena serangan langsung. Ia menambahkan bahwa masih terdapat korban lainnya dan orang-orang yang belum ditemukan yang kemungkinan masih tertimbun di bawah reruntuhan.
Data resmi menunjukkan bahwa jenazah sekitar 8.000 warga Palestina masih tertimbun di bawah reruntuhan di berbagai wilayah Jalur Gaza. Banyak lokasi yang menjadi sasaran serangan masih tidak dapat dijangkau, sementara upaya penyelamatan terus terhambat oleh kekurangan peralatan dan alat berat.
Petugas pertahanan sipil telah bekerja dalam kondisi kesehatan yang berbahaya sejak dimulainya perang Israel. Jenazah yang membusuk masih berada di area terbuka, sementara akses terhadap perlengkapan perlindungan dan peralatan pengujian biologis sangat terbatas.
Gencatan senjata yang mulai berlaku pada Oktober tahun lalu mengakhiri perang Israel di Gaza yang berlangsung selama dua tahun dan dimulai pada 7 Oktober 2023.
Menurut otoritas Palestina, serangan berdarah tersebut menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 175.000 lainnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Serangan tersebut juga menyebabkan kehancuran besar-besaran yang berdampak pada sekitar 90 persen infrastruktur sipil. PBB memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai sekitar 70 miliar dolar AS.
Sedikitnya 1.431 warga Palestina telah tewas dan 5.026 lainnya terluka dalam serangan Israel sejak gencatan senjata, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.


