Tentara Rezim Zionis: Anggaran Kami Berada dalam Kondisi Kritis

REzim Israel

Al-Quds, Purna Warta – Kepala Staf Umum militer Israel, Eyal Zamir, mengatakan bahwa anggaran militer Israel berada dalam kondisi krisis.

Eyal Zamir mengatakan bahwa ia telah memerintahkan peningkatan tingkat kesiapsiagaan satu divisi militer tambahan untuk memperkuat pasukan Israel di Tepi Barat.

Ia kemudian menambahkan, “Anggaran kami berada dalam kondisi krisis dan kas kami kosong,” sementara pasukan Israel dikerahkan di seluruh front. Menurut Zamir, kondisi tersebut berdampak terhadap kesiapan pasukan dan kemampuan operasional mereka. Laporan mengenai pernyataan tersebut juga dikonfirmasi oleh Times of Israel, yang melaporkan bahwa Zamir memerintahkan satu divisi reguler untuk disiagakan guna memperkuat pasukan di Tepi Barat akibat meningkatnya ketegangan.

Perkembangan terkait Palestina

Pada 27 Agustus 2026, Eyal Zamir kembali menyatakan bahwa militer Israel menghadapi persoalan anggaran ketika pasukannya tetap dikerahkan di berbagai front, termasuk Gaza, Lebanon, Iran, dan Tepi Barat. Ia menggambarkan kondisi kas militer sebagai “kosong” dan mengatakan persoalan anggaran tersebut dapat memengaruhi kesiapan militer. Pada saat yang sama, ia memerintahkan peningkatan kesiapsiagaan satu divisi tambahan untuk kemungkinan pengerahan ke Tepi Barat.

Di Tepi Barat, situasi kemanusiaan masih menjadi perhatian serius. Dalam pengarahan kepada Dewan Keamanan PBB pada 11 Agustus, koordinator khusus PBB menyatakan bahwa hingga 10 Agustus 2026 terdapat 76 warga Palestina yang tewas di Tepi Barat sepanjang tahun 2026, termasuk 18 anak. PBB juga mencatat sekitar 3.800 warga Palestina telah mengungsi pada 2026 akibat kekerasan pemukim, penghancuran bangunan, dan penggusuran. Lebih dari 1.430 insiden yang melibatkan pemukim Israel dan menyebabkan korban atau kerusakan properti telah didokumentasikan sepanjang tahun tersebut.

Di Jalur Gaza, kondisi kemanusiaan juga tetap sangat berat. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan pada 14 Agustus bahwa sebagian besar penduduk Gaza masih menjadi pengungsi internal dan menghadapi kondisi kehidupan yang sulit serta serangan militer yang terus berlangsung. OCHA juga mencatat bahwa 90 persen penduduk Gaza mengalami tingkat ketidakamanan air sedang hingga tinggi berdasarkan survei pada awal Juli. Selain itu, WHO mencatat 45 serangan yang berdampak terhadap layanan kesehatan di Gaza sepanjang 2026 hingga periode laporan tersebut.

Perkembangan terbaru juga menunjukkan bahwa kekerasan belum sepenuhnya berhenti meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat. Reuters melaporkan bahwa serangan udara Israel di Gaza pada 23 Agustus 2026 menewaskan sedikitnya dua orang, termasuk seorang anak laki-laki berusia empat tahun, dan melukai tujuh orang lainnya menurut pejabat kesehatan Palestina. Reuters juga melaporkan bahwa seorang anak Palestina berusia 14 tahun tewas dalam operasi pasukan Israel di dekat Nablus pada periode yang sama.

Sementara itu, kondisi pangan di Gaza masih sangat memprihatinkan. Laporan terbaru menyebut bahwa hanya sekitar 3 persen lahan Gaza yang masih dapat digunakan segera untuk pertanian, sementara sekitar 80 persen rumah kaca telah hancur. Sekitar 67 persen penduduk Gaza masih menghadapi kerawanan pangan akut. Para petani Palestina tetap berusaha memproduksi pangan dengan sumber daya yang sangat terbatas, meskipun menghadapi kekurangan air, pupuk, pestisida, kerusakan lahan, dan risiko keamanan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *