Gaza, Purna Warta – Seiring berlanjutnya serangan pasukan pendudukan Israel terhadap Gaza, sumber-sumber Palestina melaporkan bahwa sedikitnya 1.700 jenazah syuhada telah disita oleh pihak Israel.
Menurut laporan kelompok internasional kantor berita Tasnim, militer rezim pendudukan Israel hari ini, untuk hari ke-322 berturut-turut, terus melancarkan serangan brutal terhadap warga sipil sebagai bagian dari pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza.
2 Syuhada dan Sejumlah Warga Terluka dalam Serangan Israel ke Jalur Gaza
Sumber-sumber Palestina menyatakan bahwa dalam serangan pesawat tempur militer rezim pendudukan Israel terhadap Kamp Pengungsi al-Shati di sebelah barat Kota Gaza, seorang warga Palestina gugur dan beberapa lainnya terluka.
Selain itu, dalam penembakan yang dilakukan tentara Israel di Kamp Qatar, sebelah timur Kota Hamad di barat laut Khan Younis, Gaza selatan, seorang anak terkena tembakan dan mengalami luka-luka.
Dalam pemboman terhadap tenda-tenda pengungsi di Kamp Ghayth di Khan Younis, seorang warga Palestina juga gugur dan beberapa lainnya terluka.
Kapal-kapal perang militer pendudukan Israel juga melepaskan tembakan ke arah warga sipil di dekat Khan Younis. Pada saat yang sama, tentara Israel menargetkan wilayah Beit Lahia di Gaza utara serta kawasan al-Shuja’iyya dan al-Tuffah di sebelah timur Kota Gaza dengan serangan artileri.
Sementara itu, drone mata-mata militer rezim Israel terbang pada ketinggian rendah di atas wilayah barat Jalur Gaza.
Lebih dari 1.300 Syuhada Sejak Dimulainya Gencatan Senjata yang Disebut-Sebut di Gaza
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menyatakan bahwa jumlah syuhada sejak dimulainya gencatan senjata pada 10 Oktober 2025 telah mencapai 1.304 orang, sementara jumlah korban luka mencapai 4.336 orang. Selain itu, jenazah 814 syuhada juga telah ditemukan selama periode tersebut.
Menurut data resmi, jumlah keseluruhan warga Palestina yang gugur sejak dimulainya perang genosida rezim pendudukan terhadap Gaza telah mencapai 73.439 orang, sementara 174.447 lainnya terluka. Angka tersebut menunjukkan besarnya korban jiwa akibat agresi Israel yang terus berlangsung terhadap Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Gaza juga menyatakan bahwa rumah sakit-rumah sakit di wilayah tersebut menerima lima jenazah dan 10 korban luka selama 24 jam terakhir.
Israel Menyita Jenazah 1.700 Syuhada Palestina
Sementara itu, Kantor Informasi Tahanan Palestina pada Kamis, dalam sebuah pernyataan bertepatan dengan Hari Nasional untuk Pengembalian Jenazah Para Syuhada, menyatakan bahwa penolakan otoritas rezim pendudukan untuk menyerahkan jenazah para syuhada merupakan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional dan terus menambah penderitaan keluarga mereka. Keluarga-keluarga tersebut kehilangan hak untuk mengetahui nasib orang-orang yang mereka cintai, memberikan penghormatan terakhir, serta memakamkan mereka sesuai dengan tata cara keagamaan.
Kantor tersebut menegaskan bahwa berdasarkan laporan yang tersedia, Israel telah menyita jenazah sekitar 1.700 syuhada. Hingga kini, Kampanye Nasional untuk Pengembalian Jenazah Para Syuhada telah berhasil mengidentifikasi 799 di antaranya.
Menurut pernyataan tersebut, di antara jenazah yang disita Israel terdapat 81 anak berusia di bawah 18 tahun dan 10 perempuan. Namun, mengingat ribuan warga Gaza masih dinyatakan hilang akibat perang genosida Israel, diperkirakan jumlah jenazah yang disita Israel jauh lebih besar daripada angka yang telah diumumkan.
Pernyataan tersebut selanjutnya menyebut bahwa kebijakan pendudukan Israel selama beberapa dekade dalam menyita jenazah warga Palestina yang gugur telah merampas hak dasar keluarga mereka untuk mengucapkan perpisahan kepada anggota keluarga dan memakamkan mereka secara layak. Kebijakan tersebut, menurut pernyataan itu, merupakan pelanggaran terhadap hukum dan hak internasional yang mewajibkan penghormatan terhadap orang yang telah meninggal dunia.
Kantor Informasi Tahanan Palestina kemudian menyerukan kepada masyarakat internasional dan organisasi-organisasi hak asasi manusia untuk memberikan tekanan kepada Israel agar mengungkap nasib seluruh orang yang hilang dan menyerahkan jenazah para syuhada kepada keluarga mereka tanpa syarat.
Kantor tersebut juga menyerukan penyelidikan internasional yang independen mengenai kondisi terkait penyitaan jenazah para syuhada dan tindakan yang merendahkan martabat mereka. Mereka menegaskan bahwa para pejabat rezim pendudukan harus diadili dan dihukum atas pelanggaran hukum humaniter internasional.
Menurut data Kantor Informasi Pemerintah di Jalur Gaza, jumlah orang hilang di wilayah tersebut sejak dimulainya perang genosida Israel terhadap Gaza pada 7 Oktober 2023 telah mencapai lebih dari 10.000 orang.
Namun, Kementerian Kesehatan dan pemerintah Gaza tidak dapat memperkirakan secara akurat jumlah korban tewas dan orang hilang karena keterbatasan fasilitas serta hancurnya seluruh peralatan akibat perang yang dilancarkan Israel terhadap Gaza. Menurut sejumlah lembaga internasional, jumlah korban sebenarnya diperkirakan 40 persen lebih tinggi daripada angka yang dilaporkan Kementerian Kesehatan Gaza.
Oleh karena itu, jumlah orang hilang juga diperkirakan jauh lebih besar daripada angka yang diumumkan Kementerian Kesehatan Gaza.
Berbagai penilaian menunjukkan bahwa banyak orang yang dinyatakan hilang kemungkinan telah gugur dan jenazah mereka masih tertimbun di bawah reruntuhan. Besarnya volume reruntuhan dan keterbatasan peralatan menyebabkan tim penyelamat tidak mampu mengeluarkan jenazah mereka dari bawah puing-puing.
Selain itu, militer pendudukan Israel disebut terus menghalangi pekerjaan tim internasional dan badan pertahanan sipil Gaza dalam melakukan pembersihan reruntuhan, menyelamatkan korban luka, serta mengevakuasi jenazah para syuhada.


