HomeInternasionalPalestinaTel Aviv Menentang AS Kembali Ke Perjanjian Nuklir Dengan Iran

Tel Aviv Menentang AS Kembali Ke Perjanjian Nuklir Dengan Iran

Al-Quds, Purna Warta – Seorang pejabat senior di kantor perdana menteri Israel mengatakan Tel Aviv sangat menentang AS kembali ke JCPOA atau perjanjian nuklir baru dengan Iran.

Dalam beberapa pekan terakhir, para pejabat Israel telah berbicara tentang perlunya mengubah dan memperkuat kesepakatan nuklir Iran jika kemungkinan kembalinya pemerintahan baru AS, tetapi hari ini Tel Aviv mengumumkan penentangannya terhadap kesepakatan apa pun dengan Iran.

Seorang pejabat senior di kantor perdana menteri Israel mengatakan kepada Jerusalem Post bahwa Israel sangat menentang kembalinya [Amerika Serikat] ke JCPOA dan perjanjian apapun dengan Iran dalam bentuk apapun.

“Israel secara eksplisit menekankan bahwa dalam keadaan apa pun kesepakatan buruk ini tidak boleh dikembalikan,” kata pejabat itu yang dikutip oleh Jerusalem Post, yang berbicara tanpa menyebut nama.

Duta Besar Tel Aviv untuk Berlin Jeremy Isakharov mengatakan bahwa tulisannya mengenai hal ini telah disalahartikan dan harus jelas bagi semua orang bahwa di Israel sama sikapnya seperti dulu bahwa JCPOA sama sekali tidak dapat diterima bahkan dengan adanya perubahan apapun.

“Bertentangan dengan apa yang dipahami dari wawancara duta besar Israel untuk Jerman, Israel sangat percaya bahwa tidak boleh ada kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran, yang secara fundamental telah cacat,” kata pejabat Zionis itu.

“Perjanjian ini telah memberi Iran jalan emas untuk membangun infrastruktur penting untuk memiliki gudang bom atom. Perjanjian ini memberi Iran sumber daya untuk secara dramatis meningkatkan militansi dan terorisme di Timur Tengah,” katanya kepada Jerusalem Post, mengulangi tuduhan tak berdasar terhadap JCPOA.

Dalam wawancara dengan AFP beberapa hari lalu, Isakharov mengatakan bahwa Tel Aviv mendukung upaya Jerman untuk mengubah kesepakatan nuklir Iran  dengan banyaknya pembatasan.

Dalam sebuah wawancara dengan New York Times, Presiden terpilih AS Joe Biden menggambarkan posisinya untuk bulan-bulan awal pemerintahannya sebagai “titik awal untuk negosiasi di masa depan” dengan syarat adanya kepatuhan dari Iran menghadapi pembatasan.

Namun, Yakov Amidrror, mantan kepala Dewan Keamanan Internal rezim Zionis, memperingatkan Biden bahwa jikalau Kembali pada perjanjian dengan Teheran maka pembatasan nuklir harus lebih ditingkatkan menjadi 50 tahun.

Baca juga: Refleksi Uji Vaksin Corona Iran Pertama Kepada Manusia di Media Pemberitaan

Must Read

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

8 + nineteen =