Surat Kabar Ibrani: Tel Aviv dan Washington Harus Belajar dari Kegagalan Masa Lalu

ibri 1

Al-Quds, Purna Warta – Sebuah surat kabar berbahasa Ibrani mengakui bahwa menghancurkan kekuatan musuh-musuh rezim Zionis adalah hal yang mustahil.

Menurut surat kabar berbahasa Ibrani Yedioth Ahronoth mengakui bahwa pemikiran bahwa kemampuan musuh-musuh Tel Aviv di Gaza, Lebanon, dan Iran dapat dihancurkan—bahkan keyakinan ideologis mereka dapat dihapuskan—menunjukkan tingkat kelemahan dan ketidakmampuan para pengambil keputusan di rezim Zionis dan Amerika Serikat.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa mereka tidak mampu mengambil pelajaran dari kegagalan-kegagalan masa lalu mereka.

Surat kabar berbahasa Ibrani lainnya, Maariv, juga melaporkan bahwa perang melawan Iran bukan hanya membebani Amerika Serikat dengan biaya miliaran dolar, tetapi berdasarkan analisis baru, perang tersebut juga menghabiskan sebagian besar cadangan persenjataan presisi dan mahal milik negara itu.

Dalam lanjutan laporan tersebut disebutkan bahwa berdasarkan analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), pasukan Amerika selama 39 hari perang telah menggunakan ribuan rudal jelajah, rudal pencegat, dan sistem pencegatan canggih, jumlah yang jauh melampaui perkiraan awal.

Di antara sistem yang terdampak secara khusus adalah beberapa komponen dari sistem pertahanan udara dan rudal Amerika Serikat.

Sejumlah analis militer di media Barat juga memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah telah memberi tekanan besar pada stok amunisi strategis Amerika Serikat. Penggunaan besar-besaran rudal pencegat seperti Patriot, THAAD, dan SM-series oleh Amerika dan sekutunya dilaporkan memperlambat kemampuan pengisian ulang stok dalam jangka pendek.

Media Israel dalam beberapa bulan terakhir semakin sering memuat artikel yang mempertanyakan strategi perang pemerintah Benjamin Netanyahu, terutama setelah kegagalan mencapai tujuan yang diumumkan di Gaza dan meningkatnya ancaman di front Lebanon serta tekanan regional dari Iran dan sekutunya.

Sejumlah laporan juga menunjukkan bahwa militer Israel menghadapi kelelahan operasional akibat perang multi-front, termasuk kebutuhan untuk mempertahankan pasukan di Gaza, perbatasan Lebanon, Tepi Barat, dan menghadapi ancaman rudal jarak jauh dari Iran.

Di Amerika Serikat sendiri, beberapa anggota Kongres dan analis pertahanan mulai mempertanyakan keberlanjutan dukungan militer tanpa batas terhadap Israel, terutama jika hal itu menguras cadangan strategis Washington dan memengaruhi kesiapan militernya di kawasan lain seperti Indo-Pasifik dan Eropa Timur.

Laporan CSIS dan lembaga penelitian lainnya juga menekankan bahwa perang modern dengan intensitas tinggi dapat menguras stok senjata presisi jauh lebih cepat daripada kapasitas industri pertahanan untuk memproduksinya kembali, sehingga memaksa Washington dan Tel Aviv meninjau ulang strategi militer mereka.

Dengan demikian, pengakuan media Ibrani tersebut mencerminkan meningkatnya kesadaran di dalam Israel sendiri bahwa strategi “menghancurkan total” terhadap Hamas, Hizbullah, maupun Iran tidak realistis, dan justru dapat memperdalam kerugian militer, ekonomi, dan politik bagi Tel Aviv serta Washington.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *