Al-Quds, Purna Warta – Pasukan dan pemukim Israel pada Kamis (8/10) menyerbu sejumlah wilayah di Tepi Barat yang diduduki.
Pasukan Israel menyerbu kota Nablus serta Beit Furik, yang terletak di sebelah timur kota tersebut.
Di sisi lain, pasukan Israel menyerbu Wadi Abwein, sebelah utara Ramallah. Dalam tindakan yang berdampak terhadap mata pencaharian warga Palestina di wilayah tersebut, pasukan Israel mengusir para petani Palestina dari kebun-kebun zaitun ketika mereka tengah memanen hasil pertanian mereka.
Gangguan dan intimidasi terhadap warga Palestina di Tepi Barat oleh para pemukim Israel dilaporkan semakin meningkat dari hari ke hari. Serangan tersebut semakin meluas terutama selama musim panen zaitun, yang merupakan salah satu sumber penghidupan penting bagi masyarakat Palestina.
Para pemukim Israel juga menyerbu desa Amatin, sebelah timur Qalqiliya, dan menyerang warga Palestina yang sedang memanen buah zaitun di kebun-kebun mereka. Serangan juga dilaporkan terjadi di kota as-Samu‘, sebelah selatan Hebron.
Selain itu, para pemukim Israel menyerang para petani Palestina di wilayah yang berada di antara Qarawat Bani Hassan dan Deir Istiya, sebelah barat Salfit.
Serangan terhadap Petani Zaitun Berlanjut
Laporan terbaru dari WAFA pada Kamis (8/10) menyebutkan bahwa para pemukim Israel menyerang petani Palestina yang sedang melakukan panen zaitun di Abwein, sebelah utara Ramallah, serta al-Laban al-Sharqiya, sebelah selatan Nablus. Menurut sumber setempat, para pemukim yang disebut mendapat perlindungan dari tentara Israel menyerang para petani dan memaksa mereka meninggalkan lahan pertanian mereka. Sebuah kendaraan milik seorang petani juga dilaporkan diserang.
Serangan tersebut terjadi sehari setelah insiden yang menewaskan Ali Hassan Yasser al-Bazzari, 44 tahun, dan melukai 16 orang lainnya di wilayah Burqa dan Sahl Ramin. Menurut laporan yang sama, kekerasan terhadap para petani meningkat seiring dimulainya musim panen zaitun di berbagai wilayah Tepi Barat.
Sekitar 95 Warga Palestina Ditahan
Pada hari yang sama, pasukan Israel juga melakukan operasi penangkapan dan interogasi lapangan terhadap sekitar 95 warga Palestina di sejumlah wilayah Tepi Barat. Menurut WAFA, operasi tersebut berlangsung sejak malam hingga Kamis pagi dan terutama terjadi di Aqaba di Kegubernuran Tubas, Madama di Kegubernuran Nablus, dan Yatta di selatan Hebron, selain sejumlah wilayah di Jenin, Bethlehem dan al-Bireh. Di Qalqiliya, pasukan Israel juga melakukan operasi penangkapan terhadap sejumlah mantan tahanan dan anggota keluarga mereka serta menggeledah puluhan rumah.
Kekerasan Pemukim Meningkat Selama Musim Panen
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa kekerasan pemukim dan pembatasan akses terhadap lahan pertanian terus memberikan dampak besar terhadap mata pencaharian warga Palestina di Tepi Barat. Dalam laporan yang diterbitkan 2 Oktober, OCHA menyebut bahwa selama periode pelaporan 22–28 September terdapat lebih dari 50 serangan pemukim yang mengakibatkan korban atau kerusakan terhadap rumah, lahan pertanian, aset pertanian dan infrastruktur penting. Sebanyak 45 warga Palestina dilaporkan terluka dalam periode tersebut, termasuk 23 orang dalam konteks serangan pemukim.
OCHA juga memperingatkan bahwa akses terhadap lahan pertanian semakin terhambat akibat serangan pemukim, penghancuran pohon dan infrastruktur pertanian, pencurian hasil panen, serta pembatasan pergerakan. Kondisi tersebut semakin terasa selama musim panen zaitun, ketika banyak keluarga Palestina bergantung pada hasil kebun mereka sebagai sumber pendapatan.
Lebih dari 1.600 Serangan Pemukim Sejak Awal 2026
Dalam laporan September 2026, OCHA menyatakan bahwa hingga 14 September 2026, telah tercatat lebih dari 1.600 serangan pemukim di Tepi Barat yang mengakibatkan korban Palestina, kerusakan properti, atau keduanya. Serangan tersebut rata-rata mencapai 6,7 insiden per hari, dibandingkan sekitar lima insiden per hari pada 2025. Sebanyak 275 komunitas Palestina telah terdampak sepanjang 2026.
Khusus terkait musim panen zaitun, OCHA mencatat bahwa selama musim panen 2025 terdapat 185 serangan pemukim di 70 komunitas antara 1 Oktober dan 30 November. Lebih dari 6.000 pohon dan bibit zaitun dilaporkan dirusak dalam berbagai serangan tersebut. Data ini menjadi perhatian khusus menjelang dan selama musim panen 2026 karena para petani kembali menghadapi ancaman terhadap keselamatan mereka dan akses ke lahan pertanian.
Wartawan AFP Juga Diserang
Meningkatnya kekerasan selama musim panen zaitun juga berdampak terhadap jurnalis. Pada 6 Oktober, fotografer AFP Jaafar Ashtiyeh dilaporkan diserang oleh pemukim Israel ketika sedang meliput kekerasan terhadap petani Palestina di dekat Aqraba, Tepi Barat. Ia dipukul dengan popor senapan dan peralatan kameranya dirampas, sementara wartawan AFP lainnya, John Wessels, juga berada di lokasi. Organisasi pers internasional mengecam serangan tersebut dan menyerukan penyelidikan.
Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa musim panen zaitun tahun ini berlangsung di tengah meningkatnya pembatasan akses dan kekerasan terhadap masyarakat pedesaan Palestina. Selain ancaman terhadap keselamatan petani, kerusakan pohon zaitun, lahan pertanian dan infrastruktur pertanian juga berpotensi mengurangi sumber pendapatan keluarga Palestina dalam jangka panjang. OCHA menyebut bahwa pembatasan akses, kekerasan pemukim dan perluasan permukiman terus memberikan tekanan terhadap mata pencaharian masyarakat Palestina di Tepi Barat.


