Al-Quds, Purna Warta – Menurut laporan stasiun televisi Israel Kan 11, menyusul digelarnya sebuah sidang khusus di parlemen rezim Zionis (Knesset), dimensi baru dari fenomena pelecehan seksual ritualistik dan terorganisasi di masyarakat Israel terungkap. Fenomena ini, menurut para saksi dan sejumlah pejabat Israel, selama bertahun-tahun telah diabaikan atau diremehkan.
Sidang tersebut digelar atas undangan Komite Peningkatan Status Perempuan dan Komite Urusan Pemuda Knesset. Dalam sidang itu, serangkaian kesaksian mengerikan dari para korban—sebagian besar disampaikan secara anonim atau dengan nama samaran—dibacakan.
Kesaksian-kesaksian tersebut mengindikasikan adanya jaringan terorganisasi yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak, remaja, dan perempuan dengan kedok “ritual keagamaan Zionis-Kabbalistik”.
Setelah gelombang reaksi luas yang muncul pascapublikasi pernyataan mengejutkan para korban, Rabi Yaakov Medan, salah satu tokoh terkemuka kalangan religius dan kepala Yeshiva “Eretz Zion”, terpaksa mengakui keberadaan praktik-praktik tersebut dan menyatakan penolakannya terhadap para pelakunya. Ia mengatakan, “Kekerasan seksual ritualistik di masyarakat religius Israel adalah sebuah kenyataan, dan menurut saya, kejahatan ini tidak kalah beratnya dari pembunuhan dan pertumpahan darah.”
Ia juga memperingatkan bahwa pembenaran tindakan-tindakan tersebut atas nama ritual keagamaan demi menjaga citra religius suatu kelompok sosial merupakan bentuk keterlibatan dalam kejahatan.
Kesaksian Korban: dari Pemerkosaan Ritual hingga Perdagangan Seks
Berdasarkan kesaksian yang disampaikan, para korban—mulai dari anak-anak hingga remaja—mengalami pelecehan seksual secara berkelompok dalam rangkaian upacara yang disertai pembacaan ayat-ayat, doa-doa, atau simbol-simbol Kabbalah Yahudi. Sejumlah korban menyebutkan penggunaan obat-obatan terlarang, ancaman, intimidasi, serta pelatihan sistematis untuk memaksa mereka menerima eksploitasi seksual.
Salah satu korban bersaksi bahwa sejak usia remaja, ia dibawa setiap pekan ke lokasi tertentu untuk mengikuti apa yang disebut sebagai “pelatihan”, yang menurutnya tidak lain adalah persiapan untuk prostitusi dan eksploitasi seksual.
Korban lainnya menegaskan bahwa bahkan upaya mencari bantuan psikolog tidak menghentikan kekerasan tersebut, karena para pelaku terus mengintainya setelah sesi terapi.
Dalam bagian lain sidang, disampaikan pula kesaksian mengenai perdagangan seks yang terorganisasi, keterkaitan jaringan-jaringan ini dengan tokoh-tokoh berpengaruh, serta penyelenggaraan ritual-ritual dengan kehadiran figur-figur terkenal, termasuk aktivis media dan politik. Hal ini mengingatkan opini publik pada kasus-kasus internasional seperti skandal Jeffrey Epstein.
Kritik terhadap Kinerja Aparat Peradilan dan Kepolisian
Sejumlah korban dan aktivis sosial mengkritik ketidakmampuan polisi dan kejaksaan dalam menangani kasus-kasus tersebut secara efektif. Menurut mereka, meskipun telah disampaikan rincian yang dapat ditindaklanjuti, banyak berkas perkara yang dibiarkan tanpa kejelasan.
Kantor berita Israel Kan 11 melaporkan bahwa salah satu korban ritual setan tersebut justru menghadapi proses hukum setelah memberikan kesaksian di Knesset.


