Al-Quds, Purna Warta – Seorang remaja Israel mengumumkan bahwa dirinya akan dipenjara pada Minggu ini karena menolak wajib militer, dengan mengecam perang di Gaza sebagai bentuk “Holocaust” dan menuding masyarakat Israel turut berperan dalam penindasan terhadap warga Palestina.
Baca juga: 93 Warga Palestina Tewas dalam Serangan Israel di Gaza Sejak Gencatan Senjata
Remaja tersebut, Daniel Schultz, menyampaikan keputusannya melalui unggahan berantai sebanyak 25 postingan di platform X pada Kamis lalu, menyatakan bahwa tindakannya merupakan keharusan moral, karena menurutnya, “itulah hal yang paling manusiawi untuk dilakukan.”
“Di hadapan bayi-bayi yang mati kelaparan, desa-desa yang digusur secara brutal, dan warga sipil yang dikirim ke kamp penyiksaan — tidak ada pilihan lain,” tulisnya.
Schultz, yang sebelumnya merupakan anggota gerakan pemuda Yesh Atid dan sempat percaya bahwa militer Israel adalah ‘tentara paling bermoral di dunia’, mengaku pandangannya berubah total setelah menyaksikan penindasan yang dialami teman-teman sekelasnya yang beretnis Palestina di sekolah asrama campuran tempat ia belajar.
Ia menyebut bahwa seragam militer Israel adalah “ancaman terbesar bagi teman-temannya” dan “simbol dari penindasan yang terus berlangsung.”
Schultz juga mengecam masyarakat dan politik Israel, menjelaskan bahwa seluruh spektrum politik, baik sayap kanan maupun yang disebut “Zionis kiri”, sama-sama mensyaratkan kebebasan Palestina atas dasar keamanan Israel — sebuah premis yang ia tolak mentah-mentah.
“Sebuah entitas yang keamanannya bergantung pada pemusnahan bangsa lain tidak berhak atas keamanan,” tulisnya.
“Sebuah bangsa yang menentukan dirinya untuk melakukan Holocaust terhadap bangsa lain tidak berhak atas penentuan nasib sendiri.”
Ia menegaskan bahwa tanggung jawab moral tidak hanya terletak pada para tentara, tetapi juga pada masyarakat sipil yang mendukung mereka.
“Setelah 77 tahun pendudukan dan dua tahun genosida di Gaza, masyarakat Israel masih menobatkan tentaranya sebagai pahlawan,” tulisnya lagi, seraya menambahkan bahwa alih-alih melakukan perlawanan sipil, LSM dan warga Israel justru menjadi tulang punggung bagi upaya perang.
Baca juga: PBB Peringatkan Krisis Musim Dingin di Gaza Saat Israel Terus Menghalangi Bantuan Vital
Schultz menyoroti akar permasalahan yang menurutnya terletak pada Zionisme itu sendiri, yang ia sebut sebagai bentuk “chauvinisme nasional yang sadistik.”
Ia menegaskan bahwa seluruh institusi Israel telah “tercemar oleh pembunuhan dan haus darah” akibat dekade-dekade pendudukan dan apartheid.
“Masyarakat Israel tidak memiliki peluang untuk pulih selama Zionisme tetap menjadi prinsip yang tak terpisahkan darinya,” pungkas Schultz.
Sejak melancarkan perang genosida di Gaza pada 7 Oktober 2023, Israel telah menewaskan hampir 70.000 warga Palestina, sebelum perjanjian gencatan senjata disepakati di wilayah tersebut pada awal bulan ini.


