Purna Warta – Ketergantungan berlebihan pada kecerdasan buatan (AI), pengurangan staf dan prosedur penentuan target yang terburu-buru berkontribusi pada serangan rudal AS terhadap sebuah sekolah putri di Minab, Iran, demikian dilaporkan Bloomberg pada hari Jumat, mengutip para pejabat yang terlibat dalam penyelidikan Pentagon.
Pada tanggal 28 Februari, dua rudal Tomahawk menghantam Sekolah Dasar Shajarah Tayyebeh di Iran selatan, menewaskan sedikitnya 157 orang, termasuk 123 anak-anak. Serangan itu terjadi selama gelombang awal serangan AS dan Israel di seluruh Iran. Sekolah tersebut terletak di seberang pangkalan angkatan laut, yang diduga merupakan target yang sebenarnya.
Beberapa personel Komando Pusat AS (CENTCOM) dilaporkan menduga bahwa sistem AI Maven Smart milik Palantir tidak konsisten saat memilih target potensial. Laporan sebelumnya mengindikasikan bahwa militer mengandalkan citra satelit yang sudah usang menggambarkan sekolah tersebut sebagai bagian dari pangkalan militer. Ketergantungan berlebihan terhadap teknologi AI ini berakhir pada tewasnya ratusan anak-anak.
Menurut Bloomberg, Maven mampu mempercepat proses penyusunan daftar target menjadi hanya beberapa menit.
Seorang juru bicara Palantir mengatakan kepada Bloomberg bahwa perusahaan tersebut “tidak bertanggung jawab atas data dasar maupun identifikasi kekurangan intelijen” dan bahwa tidak ada bukti perangkat lunak mereka menjadi penyebab kesalahan dalam serangan di Minab tersebut.
Perusahaan raksasa AI tersebut sejak saat itu telah meningkatkan kemampuan Maven untuk “meninjau kembali intelijen dasar guna mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menggugurkan status target serta menandai ketidakkonsistenan dan ketidakakuratan yang mungkin terlewat dalam tinjauan manusia,” kata Bloomberg, mengutip seseorang yang mengetahui masalah tersebut.
Para penyelidik juga dilaporkan mencatat bahwa, atas perintah Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Pentagon membubarkan sebagian besar unit mitigasi dampak terhadap warga sipil (CHM) dan memangkas staf mereka sekitar 90%, hingga tersisa kurang dari 20 orang. Sebuah tim CHM di CENTCOM dilaporkan dikurangi dari sepuluh orang menjadi satu orang dan tidak ada pejabat CHM yang meninjau lokasi di Minab sebelum serangan dilakukan.
Kepala Hak Asasi Manusia PBB Volker Turk pada saat itu mengatakan bahwa pengeboman sekolah tersebut “menimbulkan kengerian yang mendalam.” Pada hari Kamis, sebuah misi pencari fakta PBB menyatakan ada “dasar yang kuat” untuk meyakini bahwa serangan tersebut merupakan kejahatan perang. Departemen Luar Negeri AS menolak temuan tersebut, menuduh PBB mendorong “retorika anti-Amerika dan antisemitisme” serta bersikap lunak terhadap “rezim represif.” AS belum secara terbuka mengakui tanggung jawab atas serangan tersebut, dengan Presiden Donald Trump menuduh tanpa dasar bahwa rudal itu mungkin berasal dari Iran. Namun, penyelidikan oleh sejumlah media AS menunjukkan bahwa rudal-rudal tersebut adalah buatan Amerika.


