93 Warga Palestina Tewas dalam Serangan Israel di Gaza Sejak Gencatan Senjata

93 killed

Gaza, Purna Warta – Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa setidaknya 93 warga Palestina telah tewas dan 324 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak gencatan senjata mulai berlaku di wilayah yang terkepung itu awal bulan ini.

Baca juga: PBB Peringatkan Krisis Musim Dingin di Gaza Saat Israel Terus Menghalangi Bantuan Vital

Dalam pernyataan yang dirilis pada Sabtu, kementerian menyebut bahwa dalam 48 jam terakhir, 19 jenazah korban serangan Israel telah dibawa ke rumah sakit-rumah sakit di Gaza, bersama dengan tujuh orang yang mengalami luka-luka.

Kementerian juga mencatat bahwa jumlah korban tewas akibat perang genosida dua tahun Israel di Gaza kini telah mencapai 68.519 jiwa, dengan 170.382 orang lainnya terluka, sejak 7 Oktober 2023.

Gencatan senjata yang dilanggar

Kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober di Jalur Gaza, berdasarkan rencana bertahap yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump.
Tahap pertama mencakup pertukaran tahanan, yakni pembebasan tawanan Israel dengan tahanan Palestina.

Namun, Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa Israel telah melanggar perjanjian gencatan senjata tersebut sebanyak 80 kali sejak kesepakatan itu berlaku.

Serangan-serangan terbaru Israel

Di sisi lain, seorang anak Palestina mengalami luka serius akibat tembakan pasukan pendudukan Israel di barat laut Kota Rafah, bagian selatan Gaza.

Dalam insiden terpisah, dua orang terluka ketika pasukan Israel menembaki kendaraan sipil di Bani Suhaila, sebelah timur Khan Yunis.

Pada Jumat, pasukan Israel meledakkan bangunan tempat tinggal di tenggara Khan Yunis dan menembaki wilayah timur Deir al-Balah di Gaza tengah dengan tembakan artileri.

Baca juga: Agresi Baru ke Wilayah Suriah: Pasukan Israel Menembus Hingga 40 Kilometer dari Damaskus

Secara tragis, dua bersaudara Palestina tewas dalam serangan artileri di timur Deir al-Balah, dengan pihak Israel mengklaim bahwa keduanya telah melintasi apa yang disebut “Garis Kuning.”

Ketegangan meningkat di tengah tekanan internasional

Serangan-serangan tersebut terjadi meski media Israel melaporkan bahwa Washington telah mendesak Tel Aviv agar tidak memperburuk ketegangan atau mengambil langkah-langkah hukuman atas dugaan kegagalan Hamas mengembalikan seluruh jenazah tawanan Israel seperti yang diatur dalam kesepakatan gencatan senjata.

Hamas menegaskan telah memenuhi bagiannya dengan membebaskan seluruh 20 tawanan Israel yang masih hidup serta menyerahkan sembilan jenazah tawanan yang tewas.

Kelompok perlawanan itu juga menyatakan bahwa mereka telah menyerahkan semua sisa jenazah yang berhasil ditemukan, sementara sisanya kemungkinan masih terkubur di bawah reruntuhan, bersama ribuan warga sipil, dan pemulihannya memerlukan waktu serta peralatan khusus.

Hamas menegaskan bahwa tanggung jawab atas kematian dan hilangnya para tawanan sepenuhnya berada di tangan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kabinetnya, dan militer Israel.

Israel gunakan penundaan sebagai dalih

Israel dilaporkan menggunakan penundaan pengembalian jenazah tawanan sebagai alasan untuk melanjutkan serangan, menutup penyeberangan Rafah, dan mengurangi separuh pasokan bantuan kemanusiaan yang masuk ke wilayah yang terkepung itu.

Meskipun para mediator internasional berharap gencatan senjata dapat menstabilkan situasi di lapangan, pelanggaran-pelanggaran terbaru Israel menunjukkan kembalinya taktik tekanan militer, menimbulkan kekhawatiran bahwa genosida bisa segera berlanjut di tengah krisis kemanusiaan yang semakin memburuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *