Al-Quds, Purna Warta – Lebih dari 100.000 warga Israel menggelar aksi unjuk rasa menentang pemerintah di tengah persaingan ketat menjelang pemilihan umum yang akan menentukan nasib politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Aksi demonstrasi tersebut berlangsung di Tel Aviv pada Sabtu, tiga hari sebelum pemilihan umum pertama di Israel sejak perang genosida di Jalur Gaza.
Aksi ini diselenggarakan oleh Dewan Oktober (October Council), sebuah kelompok yang didirikan oleh keluarga warga Israel yang ditawan tiga tahun lalu oleh kelompok perlawanan Palestina, Hamas.
Para demonstran menuntut pembentukan komisi penyelidikan independen untuk mengusut kegagalan keamanan Israel yang memungkinkan Hamas melancarkan Operasi Badai Al-Aqsa. Namun, Netanyahu menolak tuntutan tersebut.
“Tiga hari sebelum pemilu, kami akan menggelar acara puncak yang menandai tiga tahun perjuangan untuk mengungkap kebenaran, menuntut pertanggungjawaban, dan membentuk komisi penyelidikan negara,” demikian pernyataan Dewan Oktober dalam unggahan di platform X menjelang aksi tersebut.
Elhanan Danino, yang putranya termasuk di antara enam tawanan yang meninggal di Gaza pada akhir Agustus 2024, mengatakan bahwa pemerintahan Israel belum membentuk tim penyelidikan karena mereka memiliki “sesuatu yang ingin disembunyikan.”
Sejumlah pemimpin partai oposisi Israel turut menghadiri demonstrasi tersebut, termasuk mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Gadi Eisenkot, yang menjadi pesaing utama Netanyahu.
Eisenkot, dari Partai Yashar, disambut sorak-sorai dan teriakan massa yang menyerukan, “Siapa yang akan datang? Perdana menteri berikutnya!”
Selain itu, pemimpin Partai Demokrat, Yair Golan, juga menghadiri demonstrasi tersebut.
“Mulai Rabu mendatang, kami akan bekerja untuk membentuk komisi penyelidikan negara yang akan mengungkap kebenaran dan menegakkan keadilan bagi keluarga-keluarga tersebut,” katanya, merujuk pada hari setelah pemilu.
“Ini adalah kewajiban kita. Ini adalah misi kita. Kita akan memulihkan, membangun, dan memperbaiki. Inilah panggilan kita,” tambahnya.
Parlemen Israel (Knesset) memiliki 120 kursi. Tidak ada satu pun partai yang pernah memenangkan 61 kursi yang diperlukan untuk memperoleh mayoritas mutlak secara langsung. Karena itu, pemerintahan Israel secara rutin bergantung pada pembentukan koalisi partai-partai politik.
Sebagian besar jajak pendapat memperkirakan Partai Yashar akan memperoleh 20 hingga 23 kursi dari total 120 kursi yang diperebutkan di Knesset, melampaui Partai Likud yang dipimpin Netanyahu.
Rezim Israel melancarkan perang genosida di Gaza pada 7 Oktober setelah Hamas melakukan operasi bersejarah terhadap entitas pendudukan tersebut sebagai respons atas kekejaman rezim Israel terhadap rakyat Palestina.
Namun, dua tahun kemudian, Israel terpaksa menyetujui gencatan senjata setelah gagal mencapai tujuan-tujuan yang telah diumumkannya.
Sejak saat itu, Israel berulang kali melanggar kesepakatan gencatan senjata melalui serangan yang hampir berlangsung setiap hari di Gaza. Rezim yang disebut kriminal tersebut telah menewaskan total 74.540 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai 175.678 orang lainnya selama tiga tahun terakhir.


