Penghancuran Sistem Air Limbah Gaza oleh Israel Berbalik Menjadi Krisis Air bagi Israel

destruc

Gaza, Purna Warta  – Penghancuran sistem air limbah Gaza oleh Israel telah berkontribusi terhadap ledakan pertumbuhan alga dalam skala besar yang mengganggu jaringan desalinasi Israel sendiri, sehingga memaksa lima dari enam instalasi desalinasi miliknya berhenti beroperasi.

Lima instalasi desalinasi tersebut, yang memasok lebih dari 80 persen kebutuhan air minum Israel, dihentikan setelah alga mikroskopis menyumbat sistem pemasukan air. Kondisi itu memaksa otoritas memberlakukan pembatasan penggunaan air, menurut laporan Haaretz pada Kamis.

Para pakar lingkungan Israel memperingatkan bahwa air limbah yang tidak diolah dan mengalir dari Gaza ke Laut Mediterania menyediakan nutrisi yang dapat mempercepat pertumbuhan alga tersebut.

Krisis ini memaksa Israel meningkatkan pemompaan air dari waduk-waduk dan Danau Galilea, sembari membatasi penggunaan air untuk sektor pertanian.

“Peristiwa seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya … ini merupakan kejadian yang sangat langka,” kata Lior Gutman, juru bicara Mekorot, perusahaan air Israel.

Sejak Oktober 2023, ketika Israel memulai serangan genosidalnya terhadap Gaza, rezim tersebut telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur air dan sanitasi Gaza. Hampir 90 persen sistem tersebut mengalami kerusakan atau kehancuran, sementara seluruh enam instalasi pengolahan air limbah tidak lagi beroperasi.

Blokade Israel terhadap bahan bakar, suku cadang, dan peralatan yang dikategorikannya sebagai barang “penggunaan ganda” (dual-use) secara efektif menghambat upaya memperbaiki sistem air dan saluran pembuangan Gaza yang telah hancur. Akibatnya, fasilitas-fasilitas vital tidak dapat beroperasi dan jutaan warga Palestina terpapar pencemaran serta penyakit yang semakin memburuk.

Menurut otoritas Palestina, sekitar 40.000 meter kubik air limbah yang tidak diolah dibuang ke laut setiap hari, sementara sekitar 15.000 meter kubik lainnya merembes ke dalam tanah melalui jaringan saluran pembuangan dan tangki septik yang rusak.

Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mengatakan dalam pembaruan tertanggal 17 Juli 2026 bahwa 70 persen stasiun pompa air limbah Gaza tidak berfungsi. Kondisi tersebut menyebabkan 82 persen keluarga mengalami kerawanan air dan menempatkan jutaan orang pada risiko penyakit yang lebih tinggi.

Pada 1 September 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa krisis air di Gaza memburuk dengan cepat. Kontaminasi mikrobiologis meningkat dari kurang dari 6 persen sampel yang diuji pada Januari menjadi lebih dari 18 persen pada Agustus, sementara kasus diare cair akut hampir meningkat dua kali lipat.

Perwakilan WHO, Reinhilde Van de Weerdt, memperingatkan bahwa musim hujan yang semakin dekat dapat menyebarkan limbah dan air yang terkontaminasi ke tempat-tempat padat penduduk tempat warga Palestina tidur, memasak, dan merawat anak-anak mereka. Kondisi tersebut dapat semakin meningkatkan risiko penyebaran penyakit.

Penilaian bersama yang dilakukan Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa, yang diterbitkan pada 20 April 2026, memperkirakan bahwa Gaza membutuhkan 71,4 miliar dolar AS selama satu dekade ke depan untuk pemulihan dan rekonstruksi. Dari jumlah tersebut, 26,3 miliar dolar AS diperlukan dalam 18 bulan pertama untuk memulihkan layanan dasar dan infrastruktur penting.

Sejak Israel memulai genosida di Gaza, pasukannya telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan melukai 173.000 lainnya, yang sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *