Anggota Parlemen Senior: Hizbullah Bangga Bersekutu dengan Iran dan Akan Terus Melakukan Perlawanan

HIzbullah

Beirut, Purna Warta – Anggota parlemen Hizbullah, Hussein al-Hajj Hassan, mengatakan bahwa kelompok tersebut bangga atas aliansinya dengan Iran dan akan melanjutkan kebijakan perlawanannya. Ia mengatakan Teheran selalu mendukung Hizbullah dan bahwa pilihan untuk menyerah tidak terdapat dalam kosakata gerakan perlawanan.

Baca juga: Penghancuran Sistem Air Limbah Gaza oleh Israel Berbalik Menjadi Krisis Air bagi Israel

Al-Hajj Hassan, kepala blok parlemen Baalbek-Hermel sekaligus anggota senior blok Loyalty to the Resistance, menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah upacara peringatan ketika membahas perkembangan terbaru di Lebanon dan kawasan yang lebih luas.

“Hizbullah bangga dengan aliansinya dengan Iran, dan Iran selalu mendukung kami, sedang mendukung kami, dan akan terus mendukung kami,” katanya. Ia menambahkan bahwa Hizbullah bangga dapat mengandalkan Iran, kekuatan Iran, serta pencapaiannya.

“Hari ini Iran menguasai Selat Hormuz, harga minyak, dan perekonomian global. Ini adalah senjata di tangan kami dan di tangan para sekutu Iran, dan kami akan menggunakannya untuk memaksakan persyaratan kami,” ujarnya.

Al-Hajj Hassan mengatakan bahwa pilihan untuk menyerah tidak ada bagi Hizbullah dan bahwa kelompok tersebut akan terus bertahan serta melakukan perlawanan.

Mengenai konfrontasi antara Iran dan Amerika Serikat, Al-Hajj Hassan mengatakan pertempuran tersebut belum mencapai hasil akhir yang pasti, tetapi Teheran tidak akan pernah menyerah atau melepaskan pengaruh dan daya tawarnya.

Menurutnya, Washington berupaya memperoleh melalui jalur politik, ekonomi, dan diplomasi apa yang gagal dicapainya di medan perang.

Ia mengatakan Presiden AS Donald Trump gagal menggalang dunia untuk melawan Iran. Rusia, China, dan negara-negara lainnya, tambahnya, menolak untuk berpartisipasi dalam perang ekonomi terhadap Teheran.

Al-Hajj Hassan juga menyinggung terkurasnya persenjataan militer AS selama perang dengan Iran. Ia mengatakan pihak perlawanan berhasil mengalahkan tujuan “nyata dan mendasar” Amerika dan Israel, yakni menghancurkan gerakan perlawanan.

“Perlawanan mampu mengalahkan tujuan nyata dan mendasar Amerika dan Zionis, yaitu penghancuran gerakan perlawanan,” katanya.

Ia mengatakan Hizbullah memasuki perang melawan Israel pada 2026 setelah “15 bulan meminta pemerintah menjalankan tanggung jawabnya dalam menerapkan kesepakatan 27 November 2024.”

Al-Hajj Hassan mengecam keras sikap pasif dan “berkhianat” pemerintah Lebanon, dengan mengatakan bahwa sikap para pejabat Lebanon sejalan dengan Amerika Serikat dan Israel.

Ia secara khusus menyoroti Menteri Luar Negeri Lebanon Youssef Rajji, dengan mengatakan bahwa Rajji telah menggambarkan serangan Israel terhadap Lebanon sebagai hak Israel.

“Lebih buruk lagi, presiden dan perdana menteri sama sekali tidak menanggapi pernyataan keterlaluan Youssef Rajji. Mereka tidak menyangkalnya dan juga tidak mengatakan bahwa kami menolak pernyataan tersebut,” ujarnya.

Al-Hajj Hassan juga mengkritik langkah pemerintah Lebanon untuk melakukan perundingan langsung dengan Israel.

“Mengapa kalian begitu terburu-buru berdamai dengan Zionis, sementara kalian bahkan belum membebaskan satu desa pun dari pendudukan Israel?” katanya.

Ia menyebut perundingan langsung pemerintah Lebanon dengan Israel sebagai tindakan “berkhianat” dan mempertanyakan mengapa Beirut berupaya mencapai kesepakatan dengan Israel sebelum satu pun desa dibebaskan dari pendudukan Israel.

Al-Hajj Hassan mengatakan Hizbullah merupakan bagian penting dari suatu persamaan regional yang dipimpin Iran dalam menghadapi Amerika Serikat dan Israel.

“Hizbullah adalah bagian penting dari persamaan regional yang dipimpin Iran melawan poros kejahatan yang dipimpin Amerika Serikat dan rezim Zionis,” katanya.

“Kami akan terus menempuh jalan kami dan melihat ke mana jalan itu membawa kami, dan kalian terus menempuh jalan kalian dan lihat ke mana kalian akan berakhir,” tambahnya.

Ia mengatakan kunjungan berulang delegasi Amerika, Eropa, dan Arab ke Lebanon, disertai janji-janji yang mereka sampaikan kepada pihak perlawanan serta upaya untuk mendapatkan dukungannya, menunjukkan bahwa Hizbullah tidak melemah meskipun musuh-musuhnya mengklaim sebaliknya.

Baca juga: Freedom Flotilla Kembali Berlayar untuk Menerobos Blokade Israel atas Gaza

“Kunjungan terus-menerus delegasi Amerika, Eropa, dan Arab ke Lebanon, janji-janji yang mereka berikan kepada pihak perlawanan, serta upaya mereka untuk merangkulnya merupakan bukti bahwa Hizbullah, bertentangan dengan klaim musuh-musuhnya, tidak pernah menjadi lemah,” katanya.

Al-Hajj Hassan menyinggung pengalaman pahit Suriah setelah Abu Mohammed al-Jolani berkuasa, dengan mengatakan bahwa mengandalkan normalisasi atau kesepakatan dengan Israel ditakdirkan untuk gagal.

“Setiap ketergantungan pada normalisasi atau kesepakatan dengan rezim Zionis ditakdirkan untuk gagal, dan tidak ada logika dalam mencari perdamaian dengan musuh,” katanya.

Ia menggambarkan Israel sebagai musuh yang berupaya menduduki seluruh wilayah Arab dan menjalankan proyek “Israel Raya” (Greater Israel).

Al-Hajj Hassan kembali mengecam keras pemerintah Lebanon dan menyerukannya untuk kembali berpihak kepada rakyat, negara, dan persatuan nasional.

Ia mengatakan fase saat ini membutuhkan “keteguhan dan kegigihan” dalam menghadapi berbagai tantangan dan tekanan, sembari menegaskan kembali bahwa Hizbullah akan terus menempuh jalan perlawanannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *