Gaza, Purna Warta – Pusat Palestina untuk Orang Hilang dan Orang yang Hilang Secara Paksa mengecam pembersihan reruntuhan secara sepihak oleh rezim Israel di seluruh Jalur Gaza. Pusat tersebut menyebut operasi itu sebagai “eksekusi moral” terhadap ribuan warga Palestina yang hilang dan masih tertimbun di bawah reruntuhan.
Pasukan Israel menghancurkan sekitar 90 persen bangunan di Gaza selama hampir dua tahun pemboman yang dimulai pada Oktober 2023, menyebabkan ribuan warga Palestina terperangkap di bawah puing-puing bangunan.
Ketika gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat mulai berlaku dan serangan Israel mereda, keluarga korban serta tim penyelamat akhirnya dapat mulai mencari orang-orang yang hilang di antara reruntuhan.
Dalam 24 jam pertama saja, Pertahanan Sipil Gaza berhasil mengevakuasi 151 jenazah. Sebagian di antaranya telah membusuk sepenuhnya dan hanya menyisakan kerangka. Upaya pencarian dan evakuasi terus dilakukan sejak saat itu, dengan semakin banyak jenazah ditemukan secara bertahap dari lokasi-lokasi yang rata dengan tanah akibat gelombang awal serangan udara Israel.
Pada Minggu, pusat tersebut menyatakan keprihatinan mendalam dan mengecam keras apa yang disebutnya sebagai operasi Israel yang sistematis untuk membongkar dan mengangkut reruntuhan dari kawasan-kawasan permukiman yang hancur.
Pusat tersebut memperingatkan bahwa operasi itu merupakan upaya yang disengaja untuk menghapus bukti forensik yang diperlukan guna menentukan nasib orang-orang yang masih hilang.
Menurut pusat tersebut, kegiatan itu bukanlah upaya kemanusiaan untuk menemukan dan menyelamatkan para korban. Sebaliknya, operasi tersebut merupakan upaya untuk menghancurkan sisa-sisa jasad mereka.
Dengan meratakan lokasi-lokasi yang hancur menggunakan buldoser dan mencampurkan sisa-sisa jasad manusia dengan puing-puing bangunan, pasukan Zionis membuat proses pengujian DNA dan identifikasi di masa depan nyaris tidak mungkin dilakukan, kata pusat tersebut.
Pusat itu menambahkan bahwa pasukan Israel sedang menghapus bukti yang suatu hari dapat digunakan untuk menuntut mereka. Pusat tersebut menyerukan kepada masyarakat internasional, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Komite Internasional Palang Merah (ICRC), untuk segera turun tangan dan memaksa rezim Israel menghentikan operasi pembongkaran serta pembersihan reruntuhan di setiap wilayah yang diyakini menjadi lokasi keberadaan orang-orang yang hilang.
Pusat tersebut memperkirakan sekitar 7.000 warga Palestina masih dinyatakan hilang, termasuk sekitar 4.000 hingga 5.000 orang yang masih tertimbun di bawah reruntuhan dan belum dapat dievakuasi.
Sementara itu, pemakaman massal digelar di Kota Gaza pada Minggu untuk 100 korban yang ditemukan dari rumah-rumah dan bangunan yang hancur selama perang genosidal Israel di Gaza.
Ribuan orang berkumpul di kawasan az-Zeitoun ketika tim Pertahanan Sipil memakamkan jenazah dan sisa-sisa jasad yang ditemukan dalam operasi pencarian terbaru di berbagai wilayah yang mengalami kehancuran luas.
Menurut sumber-sumber setempat, sekitar 70 dari mereka yang dimakamkan merupakan anak-anak, sebuah pemandangan yang menggambarkan besarnya skala pembantaian di Jalur Gaza.
Perang genosidal Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan melukai 173.000 lainnya, yang sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak.


