Gaza, Purna Warta – Pendudukan Israel tidak menyisakan ruang untuk kehidupan di Jalur Gaza. Siapa yang selamat dari pengeboman sistematis, akan mati kelaparan, hingga terpaksa mengejar bantuan yang minim—yang didistribusikan secara menghina dan tanpa standar keselamatan minimum bagi penerimanya. Seorang warga Palestina yang hendak mencari makanan untuk mengisi perutnya dan anak-anaknya pergi dengan kesadaran bahwa ia mungkin tidak akan kembali, atau akan kehilangan bagian tubuhnya.
Dalam pembantaian terbaru oleh pendudukan terhadap mereka yang kelaparan, puluhan orang gugur dan ratusan lainnya terluka akibat serangan terhadap titik-titik kumpul di dekat pusat distribusi bantuan kemanusiaan di poros Netzarim.
Kenyataan pahit ini merampas hak-hak paling dasar anak-anak Gaza. UNRWA menyatakan bahwa malnutrisi akut mengancam nyawa lebih dari 2.700 anak di bawah usia lima tahun. UNRWA menegaskan kesiapan mereka untuk menyalurkan bantuan dalam skala luas bersama badan-badan PBB lainnya, sembari menuduh model distribusi bantuan Israel-Amerika sebagai ancaman terhadap nyawa, pemborosan sumber daya, dan pengalihan perhatian dari kekejaman yang terus terjadi. Mereka menuntut agar Israel mengangkat blokade dan mengizinkan masuknya bantuan secara aman dan bebas ke Gaza.
Baca juga: Gaza antara Asap Perang dan Diamnya Dunia… Harapan pada Kesepakatan untuk Memecah Neraka
Sementara itu, UNRWA juga menyatakan bahwa stok bahan bakar menipis secara kritis dan hanya satu pusat medis yang masih beroperasi sebagian di wilayah utara Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza menyebut bahwa situasi kesehatan di wilayah utara sangatlah kritis, karena semua rumah sakit telah berhenti beroperasi. Kementerian pun menyerukan intervensi segera untuk menyelamatkan sistem kesehatan, mencegah keruntuhan total, dan mendesak masuknya pasokan medis yang menyelamatkan nyawa, di tengah kepadatan luar biasa di rumah sakit.
Kepala Bank Darah Kementerian juga menyerukan kepada dunia agar segera turun tangan menyelamatkan pasien karena mereka akan meninggal, serta menekankan kebutuhan mendesak 7.000 kantong darah, karena jumlah pendonor tidak mencukupi akibat kemiskinan dan kelaparan.
Selain kehancuran sistem kesehatan dan dahsyatnya serangan Israel, tim pertahanan sipil di Gaza utara menghadapi kesulitan besar dalam mengidentifikasi lokasi serangan karena terputusnya jaringan komunikasi dan ketidakmampuan warga untuk menghubungi tim penyelamat.


