Al-Quds, Purna Warta – Para pekerja pelabuhan di kawasan Mediterania menghentikan aktivitas di lebih dari 20 pelabuhan sebagai bentuk protes terhadap apa yang mereka sebut sebagai kekejaman genosida rezim Israel di Jalur Gaza serta militerisasi infrastruktur pelabuhan untuk mendukung agresi Tel Aviv.
Penyelenggara serikat pekerja menyatakan pada Jumat, saat aksi mogok dimulai, bahwa tindakan protes ini mencerminkan solidaritas jangka panjang terhadap Palestina sekaligus tuntutan atas kondisi kerja yang bermartabat.
Menjelang pelaksanaan mogok, kapal-kapal yang diketahui secara rutin mengangkut muatan militer ke wilayah pendudukan dilaporkan telah mengubah rute pelayaran mereka.
Aksi demonstrasi berlangsung di sejumlah pelabuhan di Yunani, Turki, dan Wilayah Basque.
Di Turki, serikat pekerja Liman-İş Sendikası mengerahkan ratusan anggotanya dalam aksi “menentang genosida dan sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina.”
Di Yunani, para pekerja pelabuhan menyoroti kontradiksi antara besarnya investasi Eropa dalam persenjataan kembali dan kebijakan penghematan yang memangkas layanan publik. Mereka menilai kebijakan tersebut telah memperburuk kondisi keselamatan kerja.
“Kami tidak akan menerima pekerjaan tanpa hak,” ujar Damianos Voudigaris dari serikat pekerja Yunani ENEDEP. “Pembangunan seharusnya berarti pulang ke rumah dalam keadaan selamat. Pelabuhan adalah tempat bekerja, bukan tempat perang. Tempat keringat, bukan darah.”
Italia mencatat sejumlah aksi terbesar, dengan mogok kerja di lebih dari selusin pelabuhan yang melibatkan pekerja pelabuhan, karyawan pelabuhan, mahasiswa, serta masyarakat umum.
Serikat Unione Sindacale di Base (USB) melaporkan adanya rapat umum yang mengibarkan bendera Palestina dan menyerukan kepada gerakan buruh Eropa untuk mengadopsi pendekatan internasionalis dalam merespons kebijakan Uni Eropa dan pemerintahan sayap kanan, termasuk kebijakan Perdana Menteri Giorgia Meloni.
Para pekerja pelabuhan di Trieste memperingatkan bahaya privatisasi, sementara peserta aksi di Bari dan Ravenna menyatakan bahwa infrastruktur pelabuhan digunakan—“terkadang secara terselubung”—untuk mengangkut material militer dan barang dwiguna ke rezim Israel. Di Genoa, anggota kolektif CALP memimpin salah satu demonstrasi terbesar dengan menyatakan, “Kami berjanji akan memblokir segalanya—dan kami memblokir segalanya. Kami berjanji mogok umum—dan kami melakukannya. Kami berjanji mogok internasional—dan inilah kami.”
Para pemogok menegaskan bahwa aksi ini baru permulaan. “Hari ini pelabuhan, besok seluruh sektor logistik, dan setelah itu semua pekerja,” kata para penyelenggara.
‘Pekerja Pelabuhan Tidak Bekerja untuk Perang’
Federasi Serikat Pekerja Dunia (World Federation of Trade Unions) mendukung mobilisasi ini dan mengadopsi slogan resmi, “Dockworkers Don’t Work for War.”
Baca juga: Serangan Bunuh Diri Teroris ISIS di Perbatasan Irak–Suriah, Dua Personel Keamanan Irak Terluka
Aksi mogok ini bertepatan dengan pengumuman dari Global Sumud Flotilla yang mengungkapkan rencana misi bantuan sipil baru ke Gaza pada 29 Maret mendatang. Misi tersebut akan dimulai dari Barcelona, melintasi sejumlah pelabuhan Mediterania, serta mencakup konvoi darat paralel menuju penyeberangan Rafah—satu-satunya pintu darat Gaza yang tidak melewati wilayah pendudukan.
Armada tersebut akan membawa bantuan kemanusiaan, tenaga medis, insinyur, serta tim penyelidik kejahatan perang, sebagai upaya menembus blokade rezim terhadap wilayah Palestina yang porak-poranda akibat perang.
Ini merupakan upaya kedua armada tersebut untuk mencapai Gaza, setelah percobaan pertama menghadapi agresi dan penghalangan keras dari pihak Israel.


