Gaza, Purna Warta – Kementerian Kesehatan Jalur Gaza menyatakan bahwa lebih dari 5.400 warga Palestina telah tewas atau terluka di wilayah pesisir yang terkepung tersebut sejak diluncurkannya apa yang disebut “rencana perdamaian” dan proses gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat pada Oktober 2025.
Dalam laporan statistik hariannya pada Selasa, kementerian tersebut menyatakan bahwa 1.259 warga Palestina telah tewas dalam serangan Israel terhadap Gaza sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan rencana tersebut tahun lalu. Sebanyak 4.146 warga Palestina lainnya mengalami luka-luka, sehingga total korban mencapai 5.405 orang.
Rezim Israel terus melakukan serangan di Gaza sejak rencana tersebut diluncurkan, sekaligus tetap memberlakukan pembatasan terhadap masuknya bantuan kemanusiaan.
Media berbahasa Ibrani melaporkan pekan ini bahwa rezim tersebut telah memberitahu Washington bahwa mereka tidak akan menghentikan serangan di wilayah Gaza.
Perkembangan tersebut terjadi di tengah perselisihan yang terus berlangsung mengenai pemerintahan Gaza berdasarkan kesepakatan yang disponsori Amerika Serikat.
Pada awal Juli, gerakan perlawanan Hamas di Gaza mengumumkan pembubaran badan pemerintahan yang dipimpin oleh kelompok perlawanan tersebut dan telah mengelola wilayah itu selama hampir dua dekade. Langkah tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam kesepakatan yang disponsori AS.
Hamas kemudian menyatakan kesiapannya untuk menyerahkan kewenangan kepada badan teknokratis.
Namun, rezim Israel telah mencegah badan tersebut memasuki Gaza untuk mulai menjalankan tugasnya.
Setelah penerapan kesepakatan Oktober 2025, rezim Israel menetapkan apa yang disebutnya “Garis Kuning” (Yellow Line) di dalam wilayah Gaza.
Berdasarkan pengaturan gencatan senjata, garis tersebut dimaksudkan sebagai perimeter awal yang menjadi batas penarikan pasukan Israel.
Namun, posisi dan tindakan Israel justru mencakup operasi militer yang terus berlanjut serta perluasan kehadiran pasukannya melewati Garis Kuning. Pasukan Israel juga telah mendirikan pos-pos militer permanen di sekitar garis tersebut.
Citra satelit terbaru menunjukkan bahwa Tel Aviv sedang membangun penghalang besar di Gaza yang secara efektif akan membagi sebagian wilayah yang terkepung tersebut.
Sementara itu, jumlah bantuan kemanusiaan yang memasuki Gaza masih berada pada tingkat yang sangat rendah dan kritis.


