Pasukan Israel Tangkap 90 Orang, Termasuk Kandidat Kongres AS, dalam Penggerebekan di Tepi Barat

Israel Paksa

Al-Quds, Purna Warta – Pasukan Israel menahan 90 orang, termasuk kandidat Kongres Amerika Serikat (AS), Brad Lander, saat berlangsungnya kegiatan panen zaitun di Tepi Barat yang diduduki. Penangkapan tersebut terjadi ketika rezim Israel semakin mengintensifkan penggerebekan militer di berbagai wilayah tersebut.

Menurut kelompok hak asasi manusia Israel, Rabbis for Human Rights, Lander, kandidat Partai Demokrat untuk daerah pemilihan Kongres ke-10 di New York, sedang mendampingi para petani Palestina yang memanen buah zaitun di dekat Bethlehem. Ia telah membantu mereka selama sekitar dua jam ketika pasukan Israel menangkapnya.

“Saya telah ditahan oleh militer Israel bersama sekelompok rabi dan relawan,” tulis Lander dalam sebuah unggahan di platform media sosial X pada Rabu. Ia juga membagikan foto dirinya yang berada di dalam sebuah bus.

“Kami hanya sedang memanen buah zaitun di sebuah kebun” di Tepi Barat, lanjutnya. “Pendudukan merupakan kejahatan menurut hukum internasional. Memanen buah zaitun bukanlah kejahatan menurut hukum mana pun yang saya ketahui.”

Sebelumnya, Lander mengunggah bahwa dirinya sedang mengunjungi Tepi Barat yang diduduki bersama koalisi Protect the Harvest (Lindungi Panen). Menurutnya, koalisi tersebut “mempertemukan orang-orang dari seluruh dunia untuk membantu para petani Palestina memanen buah zaitun di tengah terorisme para pemukim yang mendapat dukungan negara.”

“Tujuan perjalanan kami adalah membantu melindungi panen zaitun sekaligus menyoroti realitas pendudukan,” katanya dalam sebuah unggahan di X yang diterbitkan pada Senin.

Lander merupakan sekutu politik Wali Kota New York, Zohran Mamdani. Ia selama ini mengkritik perang Israel di Gaza yang disebutnya sebagai perang genosida. Perang tersebut telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 175.000 orang lainnya, sekaligus menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di wilayah yang terkepung tersebut.

Dua pengacara Israel yang menangani kasus-kasus serupa menyebut insiden pada Rabu itu sebagai penculikan massal terhadap para aktivis dalam skala terbesar di Tepi Barat yang diduduki, setidaknya dalam satu dekade terakhir, sebagaimana dilaporkan NPR.

Rabi Arik Asherman, tokoh lama yang memperjuangkan hak asasi manusia di Israel, juga menyebut penangkapan tersebut sebagai peristiwa yang “belum pernah terjadi sebelumnya”.

Dalam siaran persnya, T’ruah, sebuah kelompok Yahudi yang memperjuangkan hak asasi manusia, menyebut tindakan militer Israel tersebut sebagai “penyalahgunaan kekuasaan yang keterlaluan dan bagian dari kampanye sistematis yang didukung negara untuk melakukan pembersihan etnis, yang bertujuan mengusir warga Palestina dari tanah mereka.”

Pekan lalu, para pemukim Israel yang menduduki wilayah Palestina secara ilegal melakukan dua serangan besar yang menjadi sorotan di Tepi Barat yang diduduki. Dalam salah satu serangan, mereka melukai Heidi Levine, jurnalis foto The Washington Post. Dalam serangan lainnya, mereka menyasar para diplomat Eropa.

Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diterbitkan pada Juli menyebutkan bahwa lebih dari 900 warga Palestina telah terluka akibat serangan para pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki sejak awal tahun. Sementara itu, dalam periode yang sama, sebanyak 76 warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan atau pemukim Israel, atau meninggal dunia akibat luka-luka yang mereka derita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *