Al-Quds, Purna Warta – Pasukan Israel menangkap wartawan koresponden Press TV, Naqqa Hamed, di sebuah pos pemeriksaan militer dekat Bethlehem, di Tepi Barat yang diduduki.
Hamed sedang melakukan perjalanan bersama tim kamera ketika pasukan Israel menghentikan mereka di sebuah pos pemeriksaan dekat kota Tuqu, sebelah tenggara Bethlehem. Tim tersebut kemudian digeledah. Setelah itu, pasukan Israel menangkap Hamed dan membebaskan para juru kamera, demikian disampaikan salah seorang rekannya kepada Press TV.
Penangkapan tersebut terjadi setelah wartawan Palestina itu selama sebulan terakhir menjadi sasaran serangan dan kampanye pencemaran nama baik oleh akun-akun Zionis. Dalam upaya yang terkoordinasi, akun-akun tersebut berusaha mengintensifkan kampanye media terhadap Hamed dengan mengunggah konten serupa menggunakan bahasa yang hampir identik.
Dengan menyoroti keberadaan Naqqa Hamed di “Area B”, yang berada di bawah kendali keamanan Israel, akun-akun tersebut melontarkan pertanyaan provokatif mengenai bagaimana ia dapat terus bekerja di wilayah tersebut “tanpa ditangkap”, sembari menyebut kerja samanya dengan Press TV Iran.
Kampanye tersebut merupakan bagian dari upaya yang ditargetkan untuk memberikan tekanan psikologis dan media, mempersempit ruang gerak yang tersedia bagi para jurnalis dan organisasi media, serta menghambat pemberitaan Press TV mengenai tindakan-tindakan Israel agar tidak sampai kepada masyarakat di seluruh dunia.
Sebelumnya, wartawan tersebut juga pernah menjadi sasaran ketika meliput operasi militer Israel di Tepi Barat yang diduduki. Pada 6 Agustus, pasukan Israel menyerang sejumlah wartawan, termasuk Hamed, ketika mereka meliput penggerebekan di kamp pengungsi Qalandiya.
Para wartawan tersebut mengenakan rompi dan helm pers serta terlihat jelas sebagai anggota media ketika pasukan Israel menggunakan granat kejut dan gas air mata terhadap mereka.
Hamed juga mengalami luka pada Desember tahun lalu ketika melakukan siaran langsung dari kamp pengungsi Qalandiya setelah pasukan Israel menembakkan peluru karet.
Penahanan terbaru ini terjadi di tengah berlanjutnya penggerebekan Israel di berbagai kota, wilayah permukiman, dan kamp pengungsi di Tepi Barat yang diduduki. Penggerebekan tersebut meliputi penggeledahan rumah, penangkapan, dan penembakan, sementara ketegangan terus meningkat sejak Israel memulai perang di Jalur Gaza pada Oktober 2023, yang disebut sebagai genosida.


