Purna Warta – Dalam dua tahun terakhir, fasilitas nuklir Iran berulang kali menjadi sasaran serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel dengan tujuan merusak secara serius infrastruktur pengayaan Iran serta mempersulit kemampuannya untuk memperkaya uranium dan memproduksi sentrifus.
Namun, terdapat satu pertanyaan yang tidak dapat dijawab hanya melalui citra satelit mengenai bangunan-bangunan yang menjadi sasaran, dan pertanyaan ini masih belum terjawab secara meyakinkan: apakah program nuklir Iran dapat dimusnahkan dengan mengebom infrastrukturnya?
Karena itu, pertanyaan setelah serangan tersebut bukanlah apakah fasilitas pengayaan telah mengalami kerusakan, melainkan seberapa besar pengetahuan dan keahlian yang mendasarinya masih tetap ada, serta apakah sumber daya intelektual tersebut akan memungkinkan Iran memperluas program nuklir damainya meskipun menghadapi agresi militer yang tidak adil, ilegal, dan tidak beralasan.
Perang agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran serta serangan terhadap fasilitas nuklir Iran didasarkan pada suatu pandangan yang sempit, yakni bahwa pengeboman dan perusakan fasilitas nuklir Iran yang vital dapat menghilangkan kemampuan pengayaan Iran secara permanen.
Keterbatasan utama kebijakan Amerika Serikat dan Israel terkait program nuklir Iran terletak pada kenyataan bahwa kekuatan militer mungkin dapat menghambat program pengayaan uranium Iran untuk jangka waktu yang panjang. Namun, anggapan bahwa serangan terhadap infrastruktur fisik dapat mencegah Iran memperkaya uranium merupakan pemikiran yang keliru dan sangat naif.
Dari sudut pandang sejarah, perang yang dipaksakan terhadap Iran oleh rezim Baath yang didukung Barat di Irak memberikan pelajaran penting dalam hal ini. Antara 1984 dan 1988, Irak berulang kali menyerang pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr dan menyebabkan kerusakan besar terhadap infrastrukturnya.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mencatat bahwa fasilitas tersebut mengalami kerusakan akibat serangan udara Irak selama perang yang dipaksakan tersebut. Namun, kehancuran itu tidak menghentikan kemampuan nuklir Iran. Setelah perang berakhir, Iran kembali menjalankan program tenaga nuklirnya dengan penuh kekuatan, dan pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr kembali beroperasi secara penuh pada 2013.
Realitas sejarah ini menunjukkan bahwa kerusakan terhadap infrastruktur nuklir Iran tidak menghancurkan kapasitas dasarnya ataupun komitmennya untuk mengembangkan program energi nuklir damai.
Sejarah program nuklir Iran juga menjadi contoh lain yang secara kuat menunjukkan bahwa agresi militer tidak akan berhasil menghambat tujuan nuklir negara tersebut. Iran sebelumnya telah menghadapi berbagai upaya untuk mengganggu program nuklirnya, bukan hanya dengan menargetkan infrastrukturnya, tetapi juga dengan membunuh para ilmuwan yang memainkan peran penting dalam pengembangannya.
Antara 2010 dan 2012 saja, sejumlah ilmuwan Iran yang terkait dengan penelitian nuklir dibunuh oleh rezim Israel, termasuk Majid Shahriari dan Mostafa Ahmadi Roshan. Pada 2020, Mohsen Fakhrizadeh, salah satu tokoh terpenting yang terkait dengan penelitian nuklir dan pertahanan Iran, juga dibunuh dalam sebuah serangan yang disebut dilakukan oleh rezim Zionis.
Signifikansi dari pembunuhan tersebut cukup jelas: jika pembunuhan terhadap tokoh-tokoh penting tidak mampu menghentikan atau menggagalkan program nuklir Iran, maka terdapat sedikit alasan untuk beranggapan bahwa penghancuran infrastruktur fisik dapat menghilangkan kemampuan nuklir Iran.
Faktanya, ketika pembunuhan tersebut—bersama dengan serangan terhadap fasilitas nuklir—dipahami dalam konteks meningkatnya kebutuhan energi Iran serta hak untuk menghadapi agresi eksternal, semakin terlihat bahwa Iran akan tetap berkomitmen untuk mempertahankan kemampuan militer dan nuklirnya.
Dalam konteks ini, program nuklir Iran jauh melampaui sekadar fasilitas yang memungkinkan dilakukannya pengayaan uranium. Program nuklir tersebut merupakan upaya untuk mencapai kemandirian strategis, yaitu kemampuan untuk mengembangkan teknologi dan kapasitas yang memungkinkan Iran mencapai kemajuan ilmiah meskipun menghadapi sanksi dan tindakan permusuhan dari pihak-pihak yang menjadi lawannya.
Seperti halnya pengembangan rudal, drone, dan berbagai kemampuan militer lainnya secara mandiri yang berkaitan erat dengan strategi Iran yang lebih luas dalam mencapai kemandirian, pengetahuan dan pengembangan nuklir merupakan bentuk modal strategis yang diperlukan bagi kemajuan ilmiah.
Ilmu pengetahuan nuklir Iran—yang memungkinkan negara tersebut memperkaya uranium, memproduksi sentrifus canggih, dan mempertahankan tenaga kerja ilmiah yang memiliki keahlian tinggi—memberikan kemampuan teknologi yang tidak dapat dihilangkan hanya dengan menghancurkan instalasi fisik.
Dengan demikian, terdapat sebuah paradoks: kebijakan untuk mencegah Iran melakukan pengayaan nuklir melalui serangan militer pada kenyataannya justru membuat Iran semakin berkomitmen untuk melanjutkan program nuklirnya.
Pelajaran penting bagi Iran dari puluhan tahun sanksi dan serangan adalah bahwa ketika infrastrukturnya dihancurkan dan para ilmuwannya dibunuh, respons yang logis bukanlah meninggalkan program nuklirnya, melainkan memastikan bahwa pengetahuan nuklir tetap bertahan dan terus berkembang.
Jika Iran hingga kini belum memiliki senjata nuklir, hal tersebut semata-mata disebabkan oleh sikap Pemimpin Revolusi Islam yang telah gugur, Ayatollah Sayyed Ali Khamenei, yang dalam beberapa kesempatan menyatakan bahwa senjata nuklir dilarang dalam Islam. Sikap tersebut secara lebih jelas tercermin dalam fatwa terkenal yang dikeluarkannya pada 2003.
Saat ini telah muncul spekulasi bahwa Iran mungkin mengubah doktrin pertahanannya, tetapi hal tersebut belum dapat dikonfirmasi. Dua perang yang dipaksakan dalam kurun waktu kurang dari satu tahun serta ancaman nuklir yang terus-menerus telah mendorong banyak warga Iran untuk menuntut agar negara mereka mengembangkan senjata nuklir.
Pengetahuan ilmiah yang diperlukan untuk merancang dan mengoperasikan fasilitas nuklir tidak dapat dihilangkan hanya dengan menghancurkan bangunan-bangunan tersebut. Oleh karena itu, jika masa depan nuklir Iran pada akhirnya ditentukan oleh pengetahuan ilmiah yang telah dilembagakan dan dikuasainya, bukan semata-mata oleh apa yang terdapat di dalam fasilitas-fasilitasnya, maka bab terpenting dalam perjalanan nuklir Iran mungkin justru dimulai setelah perang yang sedang berlangsung ini.
Dengan kemampuan yang dimilikinya, Iran dapat memilih jalan apa pun yang dianggap tepat oleh kepemimpinan tertingginya. Namun, Iran tidak akan meninggalkan program nuklir yang telah dikembangkan dan dipertahankan dengan darah para syuhada. Program nuklir Iran hanya akan terus tumbuh dan berkembang untuk memenuhi kebutuhan bangsa.
Oleh Vahid Mirzakhani
Vahid Mirzakhani adalah penulis dan peneliti yang berbasis di Tehran.


