Al-Quds, Purna Warta – Mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, menyerukan agar Perdana Menteri Benjamin Netanyahu disingkirkan “dengan tongkat dan batu” apabila ia berusaha merusak atau menggagalkan pemilihan umum mendatang melalui agresi militer terhadap Lebanon.
“Saya khawatir Netanyahu mungkin akan mencoba menggagalkan pemilu, dan ia dapat melakukannya dengan sangat mudah. Jika ia mencoba, kita tidak akan punya pilihan selain menyingkirkannya dengan tongkat dan batu,” kata Barak dalam sebuah wawancara pada hari Minggu.
Netanyahu, yang kini berusia 76 tahun, telah memimpin pemerintahan koalisi saat ini sejak akhir Desember 2022.
Partainya, Likud, digambarkan sebagai salah satu pemerintahan paling berhaluan kanan sejak Israel didirikan secara ilegal sebagai entitas politik di wilayah Palestina yang diduduki pada tahun 1948.
Masa jabatan parlemen Israel saat ini akan berakhir pada Oktober 2026, sementara pemilu diperkirakan akan diselenggarakan pada September atau Oktober tahun yang sama.
Barak memperingatkan bahwa Netanyahu “dapat menggagalkan pemilu” dengan menyerang Lebanon, yang pada gilirannya dapat memaksa gerakan perlawanan Lebanon, Hizbullah, atau Iran untuk melakukan serangan balasan.
“Netanyahu menginginkan perang tanpa akhir karena ia memahami bahwa berakhirnya perang akan mempercepat proses persidangan terhadap dirinya,” ujar Barak.
Netanyahu saat ini sedang menghadapi persidangan atas tuduhan korupsi. Selain itu, sejak tahun 2024 ia juga menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza, di mana serangan Israel telah menyebabkan lebih dari 72.000 warga Palestina tewas dan sekitar 172.000 lainnya terluka.
Barak juga mengecam Netanyahu karena menyerang Iran. Menurutnya, “Israel sedang membayar harga atas kesombongan dan kurangnya visi Netanyahu,” karena “tidak satu pun tujuan perang terhadap Iran yang berhasil dicapai.”
Ia menambahkan bahwa perundingan antara Washington dan Teheran merupakan perkembangan yang “sangat buruk” bagi Israel, dan Netanyahu harus bertanggung jawab atas setiap kesepakatan yang mungkin tercapai.
Menurut Barak, pengaturan yang sedang dibahas antara Iran dan Amerika Serikat “bukanlah sebuah perjanjian, melainkan nota kesepahaman (MoU) yang tidak menyentuh persoalan rudal maupun sekutu-sekutu regional Iran.”
Pada hari Senin, Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) menyatakan bahwa Teheran dan Washington telah menyelesaikan naskah nota kesepahaman (MoU) mengenai penghentian perang, yang mencakup penghentian segera dan permanen operasi militer di seluruh front, termasuk Lebanon, serta pengakhiran blokade laut Amerika Serikat terhadap Iran.
MoU tersebut diselesaikan pada Minggu malam dan dijadwalkan ditandatangani pada hari Jumat di Swiss.
Berdasarkan ketentuannya, perang dan seluruh serangan militer, termasuk di Lebanon, dihentikan segera, sementara blokade laut AS terhadap Iran dicabut.
Pembicaraan teknis dan politik lebih lanjut dijadwalkan berlangsung setelah penandatanganan guna membahas rincian implementasi kesepakatan tersebut.
Agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026.
Sebagai tanggapan, angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan rudal dan drone setiap hari terhadap sasaran di wilayah pendudukan Israel, serta terhadap pangkalan dan aset militer Amerika Serikat di berbagai negara kawasan.
Iran juga menutup Selat Hormuz, yang memicu lonjakan tajam harga minyak dunia dan berbagai komoditas energi lainnya.


