Menteri Israel: Israel Akan Tetap Berada “Tanpa Batas Waktu” di Wilayah Lebanon, Suriah, dan Gaza yang Baru Diduduki

Acupation

Al-Quds, Purna Warta – Menteri Urusan Militer Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa rezim Israel berencana mempertahankan kehadiran militernya untuk waktu yang tidak terbatas di wilayah-wilayah yang baru didudukinya di Lebanon selatan, Suriah, dan Jalur Gaza yang terkepung.

“Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan saya menjalankan kebijakan yang jelas, yaitu bahwa militer Israel akan tetap berada di zona-zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza untuk jangka waktu yang tidak terbatas,” kata Katz dalam sebuah pernyataan pada Senin.

Katz juga menyatakan bahwa Benjamin Netanyahu telah menyampaikan rencana tersebut kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Menteri yang dikenal berpandangan keras itu menggambarkan perebutan dan pendudukan wilayah sebagai “pencapaian terbesar” militer Israel.

“Karena itu, kami menolak penarikan pasukan dari Lebanon, meskipun terdapat berbagai tekanan saat ini maupun yang akan datang,” ujarnya.

“Wilayah tersebut akan dibersihkan dari penduduk lokal, dan seluruh infrastruktur, baik di atas maupun di bawah tanah—termasuk rumah-rumah di desa-desa garis depan—akan dihancurkan.”

Selama dua setengah tahun terakhir, Israel telah menguasai sejumlah wilayah di Gaza, Lebanon, dan Suriah dengan luas total sekitar 1.000 kilometer persegi, wilayah yang sedikit lebih kecil dibandingkan luas Kota New York.

Pernyataan Katz disampaikan tidak lama setelah diumumkannya nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan Amerika Serikat yang bertujuan mengakhiri konflik di seluruh front, termasuk di Lebanon.

Iran disebut mengaitkan kesepakatan sementara tersebut dengan penghentian serangan Israel terhadap seluruh negara Muslim di kawasan.

Teheran telah memperingatkan bahwa konsekuensi dari setiap provokasi Israel terhadap perdamaian dan keamanan regional akan menjadi tanggung jawab penuh Amerika Serikat dan rezim Zionis.

Gencatan senjata yang mulai berlaku pada 8 April menghentikan serangan militer langsung Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran setelah perang yang berlangsung selama 40 hari sejak 28 Februari.

Namun demikian, Israel tetap melancarkan serangan terhadap wilayah perbatasan Lebanon dan kembali menargetkan kawasan Dahiyeh di Beirut, daerah yang mayoritas penduduknya bermazhab Syiah.

Iran berulang kali menegaskan bahwa setiap serangan terhadap Lebanon merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata dan akan mendapat respons.

Pada 7 Juni, angkatan bersenjata Iran meluncurkan rentetan rudal ke wilayah yang diduduki Israel sebagai tanggapan atas serangan-serangan Israel yang terus berlanjut terhadap Lebanon dan dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Dalam pernyataan terbarunya, komando militer pusat Iran mengecam rezim Zionis karena secara sistematis melanggar gencatan senjata dan meningkatkan agresi terhadap rakyat Lebanon dengan dukungan langsung Amerika Serikat serta di tengah sikap diam komunitas internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *