Al-Quds, Purna Warta – Meskipun hampir dua tahun telah berlalu sejak perang terhadap Jalur Gaza dan rezim Israel gagal mencapai tujuan yang diumumkan, yaitu menghancurkan gerakan Hamas dan membebaskan tawanan Israel, Yisrael Katz, Menteri Perang rezim Israel, kembali mengancam gerakan Hamas dan memperingatkan akan terjadi “badai dahsyat” di Gaza.
Menurut laporan Al-Akhbar, pada hari Senin, Katz memperingatkan Hamas bahwa jika mereka tidak menyerahkan senjata dan membebaskan tawanan Israel, Gaza akan dihancurkan.
Menteri Perang Israel itu menulis di platform media sosial X:
“Badai dahsyat akan melintasi langit Kota Gaza dan atap menara teror akan terguncang. Ini adalah peringatan terakhir bagi para pembunuh Hamas di Gaza dan di luar negeri: Bebaskan tawanan yang diculik dan turunkan senjata kalian, atau Gaza dan kalian akan binasa.”
Ancaman Menteri Perang Israel ini muncul sementara rezim tersebut selama hampir dua tahun melakukan genosida, menggunakan kelaparan sebagai senjata, melakukan kejahatan perang, membunuh warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak, serta menghancurkan rumah-rumah warga Palestina secara luas.
Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, sejak 7 Oktober 2023 (15 Mehr 1402), jumlah total korban tewas akibat agresi Israel mencapai 64.368 orang, sementara korban luka berjumlah 162.776 orang.
Katz menambahkan:
“Militer akan melanjutkan operasi sesuai rencana dan sedang mempersiapkan perluasan operasi untuk menduduki Gaza.”
Ia melontarkan ancaman ini meski pengakuan dari pejabat, politikus, jenderal, dan analis Israel sendiri menunjukkan bahwa rezim tersebut telah gagal mencapai tujuan perang terhadap Jalur Gaza, yakni menghancurkan Hamas dan membebaskan tawanan Israel.
Meskipun hampir dua tahun berlalu sejak perang terhadap Gaza, Hamas masih terus berperang melawan rezim Israel dan telah memberikan pukulan telak terhadap militer Israel. Hamas menegaskan bahwa Tel Aviv tidak akan pernah mampu membebaskan tawanan Israel melalui cara militer, dan Israel harus tunduk pada syarat-syarat perlawanan untuk pengembalian para tawanan.
Beberapa jam setelah ancaman ini, dalam sebuah operasi martyrdom di Yerusalem yang dilakukan oleh dua pejuang Palestina, 5 warga Israel tewas dan 20 orang lainnya terluka.


